Senin, 31 Januari 2011

A New Hope



Entah benar membawa pengaruh atau tidak, yang jelas sejak kepemilikan Liverpool berpindah dari rezim Hicks-Gillet ke John W. Henry dan kepelatihan dari Roy Hodgson ke Kenny Dalglish, seakan nasib baik kembali menaungi awan Anfield. Meski di laga awal Liverpool ditaklukkan rival abadinya, Manchester United di putaran ke-3 Piala FA, dan harus menyerah dari Blackpool, setidaknya kedatangan legenda hidup mereka 'King' Kenny Dalglish telah memberi aura positif bagi tim. Setelah bermain imbang di derby Merseyside, barulah di laga keempat ia berhasil memberi kemenangan bagi timnya, saat The Reds berkunjung ke Molineux, kandang Wolverhampton. Liverpudlian setidaknya dapat memperpanjang nafas mereka.

2 minggu terakhir menjelang bursa transfer tutup, manajemen Liverpool gencar melakukan aktifitas transfernya. Mereka (akhirnya) melepas Ryan Babel ke Hoffenheim. Pemain ini memang menjadi langganan timnas Oranje Belanda, namun beberapa musim belakangan penampilannya kurang impresif, sehingga manajemen memutuskan untuk melegonya. Siap-siap menyaksikan drama transfer yang bisa dibilang gila...

1) Fernando Torres pindah ke Chelsea. Ya, ini benar - benar terjadi. Striker yang selama bertahun - tahun menjadi roh Liverpool bersama Steven Gerrard ini resmi meninggalkan Anfiel untuk berlabuh di Stamford Bridge, markas Chelsea dengan bandrol 50 juta poundsterling. Sebuah hal yang membuat sesak nafas Liverpudlian mengingat 'El Nino' telah memberi sumbangsih gol yang tidak sedikit. Mengapa harus Chelsea? Saya menyoroti 2 faktor; Liga Champions dan uang transfer. Tidak ada yang memungkiri bahwa Fernando Torres striker papan atas Eropa. Namanya selalu menghiasi daftar topskor Liga Inggris, minimal menyentuh double-digit. Tapi, sejak musim lalu ia menjadi pesakitan. Keran golnya seakan macet, meja operasi telah menjadi rekannya selama berpekan - pekan, dan berimbas pada penampilan buruknya bersama timnas Spanyol di Piala Dunia 2010. Kini, ia bergabung bersama Chelsea, dimana tim London Biru ini memiliki predator macam Didier Drogba, dan Anda bisa bayangkan kedua striker ganas ini bila diduetkan. Dahsyat. Terlebih Chelsea menawarkan nilai plus, karena Torres akan bermain di Liga Champions (meski musim ini ia tidak dapat diturunkan karena telah membela Liverpool di Liga Eropa), namun setidaknya ia telah bergabung dengan tim yang memiliki ambisi besar untuk mengakomodir impiannya tersebut.

Faktor lain adalah uang transfer yang menggiurkan. Nilai transfer saat ini yang makin menggila membuat Chelsea harus berkali - kali menaikkan tawarannya demi mendapatkan servis Torres. Begitu menyentuh angka 50 juta pounds, Liverpool seperti menghela nafas dengan tidak dapat menolak tawaran tersebut, sebuah harga yang worth it untuk striker sekelas Torres.

2) Andy Carroll dan Luis Suarez pengganti Fernando Torres. Luis Suarez memang sejak awal bursa transfer dibuka telah memenuhi halaman depan surat kabar mengenai spekulasinya meninggalkan Ajax Amsterdam untuk bergabung dengan Liverpool. Dan di hari terakhir transfer window musim dingin ini, Liverpool sukses mendaratkan pemain yang mencetak hattrick ke gawang ke Indonesia, Oktober lalu tersebut dengan bandrol 26,5 juta poundsterling. Suarez akan mengenakan nomer legendaris yang dulu sempat menjadi nomer suci milik sang pelatih.

Andy Carroll. Striker jangkung yang lebih mirip pendekar kolosal ini diproyeksikan menggantikan posisi goal-getter yang ditinggalkan Torres. Torehan 11 golnya di paruh musim pertama bersama Newcastle United cukup meyakinkan Kenny Dalglish untuk memboyongnya ke Anfield. Bersama klub yang membesarkan namanya tersebut Carroll telah mengecap sukses, salah satunya ia berhasil menjalani debut dengan timnas Inggris kala mereka ditaklukkan Prancis tahun lalu. Tawaran menggiurkan sebesar 35 juta poundsterling sulit ditolak kubu Newcastle yang memang membutuhkan dana segar untuk kebutuhan tim. Harga tersebut juga memecahkan rekor transfer pemain Inggris milik Rio Ferdinand yang bergabung dengan Manchester United dari Leeds United pada musim 2002/2003. Bersama Steven Gerrard cs, Carroll - Suarez diharapkan membawa angin segar bagi permainan the Reds dibanding ketika hanya bertumpu pada Torres dan Gerrard, dan lebih penting lagi untuk mengembalikan posisi Liverpool ke zona Eropa meski kelihatannya sulit karena Chelsea, Arsenal, Manchester City dan Manchester United begitu konsisten setiap pekannya untuk mempertahankan posisi masing - masing.

Harapan baru tela datang. Meminjam judul film Star Wars episode IV; A New Hope.

Selasa, 30 November 2010

El Classico jilid 161

30 November 2010 akan diingat sebagai hari yang bersejarah bagi publik Katalan yang diwakili 11 pemain di lapangan atas nama Barcelona. Kemenangan atas sang rival abadi, sang pemilik kerajaan Spanyol, Real Madrid dengan skor telak 5-0 merupakan suatu pencapaian manis skuad Barcelona, sekaligus mengulangi prestasi 17 tahun lalu saat Romario dkk mencukur sang lawan dengan skor sama dan tempat yang sama. Kala itu, Barcelona yang dibesut Johan Cruyff, sang penyembah Total Voetbal memporakporandakan Real Madrid lewat gelontoran gol dari Romario, Ronald Koeman dan Ivan Iglesias. Bahkan, pelatih Barcelona saat ini yaitu Josep 'Pep' Guardiola kala itu bermain sebagai gelandang tengah bagi skuad Los Cules.

Layaknya hajatan besar, pertandingan El Classico ke 116 ini digelar pada hari Senin malam atau Selasa dini hari WIB, waktu yang agak tidak lazim mengingat pasti rakyat Spanyol telah menantikan pertarungan antar orang-orang terhebat dalam urusan kulit bundar di muka bumi. Betul. Laga sarat emosi tersebut dimulai dari insiden pendorongan Cristiano Ronaldo terhadap Pep Guardiola hingga tamparan Sergio Ramos kepada 2 sahabatnya di timnas Spanyol yakni Carles Puyol dan Xavi Hernandez yang telah emosi setelah dirinya di kartu merah wasit karena melanggar keras Lionel Messi. Hal tersebut menjadi begitu lazim mengingat pertandingan ini bukanlah pertandingan sembarangan. Ini telah menyangkut harkat dan martabat yang telah turun temurun diwariskan oleh legenda kedua klub.

Superiotas Los Merengues, julukan Real Madrid yang notabene belum terkalahkan di semua laga musim ini seakan lenyap begitu saja jika melihat cara mereka bermain yang jika dalam bahasa Indonesia yang ejaannya-tidak-disempurnakan yakni dikadal-kadalin. Bagaimana tidak? Hampir 600 passing dilancarkan Barcelona demi menyuguhkan permainan indah yang selama ini mereka kerap pertontonkan, ditambah statistik penguasaan bola yang menunjukkan mereka menguasai bola sebanyak kurang lebih 67% di sepanjang gila. Fantastis. Hal yang nyaris tidak mungkin tidak mungkin dilakukan menghadapi tim sekaliber Real Madrid yang diasuh Jose Mourinho. Hal tersebut bahkan diakui Mou - panggilan akrab Jose Mourinho - "Saya belum pernah kalah dengan skor sebanyak ini (5-0), namun kami memang berhak mendapatkannya. Kami bermain begitu buruk, sedangkan mereka begitu fantastis,"begitulah ujarnya. Ada beberapa kunci mengapa Barcelona terlihat begitu superior kala menghancurkan Real Madrid:

1. Ball possession. Jika digambarkan dengan indeks prestasi, mungkin secara kumulatif skuad Barca memiliki nilai cum laude, terutama trio gelandang Busquets-Xavi-Iniesta. Tidak perlu dijelaskan lagi betapa indahnya melihat mereka bertiga menguasai lini tengah. Xavi dengan indah mengorkestrasi timnya, Iniesta berdansa diantara Sami Khedira, Xabi Alonso, dan bek-bek Madrid, sementara Busquets secara elegan menjaga keseimbangan lini tengah dengan permainan tenang nan ekslusif. Tak ayal jika mereka menguasai ball possession hingga 67% karena begitu leluasanya 3 gelandang ini mendikte permainan. Tiki taka biasa disebutnya permainan indah ini. Hampir tidak pernah pemain Real Madrid memegang bola selama lebih dari 20 menit. Kendali selalu dipegang Barcelona dengan ball possession yang menakjubkan antar lini.

2. Mental. Inilah gelaran El Classico pertama bagi nama-nama macam Ricardo Carvalho, Sami Khedira, Mesut Ozil, Angel Di Maria. Mereka merupakan pemain yang handal di posisinya, no doubt about it. Tapi jika sudah menginjak rumput Nou Camp dan harus menghadapi sang pemilik rumah anda harus menomorduakan teknik, mental mengambil alih performa di lapangan. Berbeda dengan Xavi, Puyol, Messi, dkk (kecuali David Villa) yang sebelumnya telah fasih dengan laga ini. Terlihat perbedaan yang mencolok dari sisi olah bola, lihat saja Xavi dengan 110 passingnya (Xavi sendiri) mampu mendistribusikan bola ke semua lini dengan mudahnya. Di Madrid praktis hanya Iker Casillas dan Sergio Ramos yang telah menjalani partai El Classico lebih banyak diantara rekam setimnya. Namun Ramos pula lah yang mengacaukan pertandingan dengan kartu merah yang diterimanya di akhir laga dan tamparan kepada Carles Puyol dan Xavi.

3. Gol cepat. Pep tahu betul bagaimana meruntuhkan moral tim sekelas Real Madrid, setelah melakukan pressing ketat di menit - menit awal, mereka berhasil memancing keluar pertahanan Madrid dan berhasil menggolkan gawang Iker Casillas 2 kali dalam tempo 20 menit. 3 dari 5 gol yang tercipta Madrid saya ingat terjadi berkat umpan terobosan diagonal yang hampir mirip prosesnya, yakni gol Xavi dan 2 gol David Villa semua diawali umpan terobosan tajam nan terukur dari lini tengah Barca. Karena di lapangan Alonso dan Khedira tidaklah berdiri sejajar, Alonso bermain lebih dalam dan 4 bek Madrid memainkan offside trap sehingga memaksa mereka naik hingga seperempat lapangan. Maka jalan yang ditempuh Barca dengan melancarkan umpan diagonal sangatlah tepat, karena jika mereka masih menggunakan fungsi Villa dan Pedro sebagai winger, bek Madrid akan mudah menjebak mereka masuk ke posisi offside.

4. Pemilihan pemain. Banyak yang mengkomparasi tipe permainan Madrid dengan Internazionale besutan Mou ketika mereka menaklukkan Barca di Liga Champions musim lalu. Kali ini Mou gagal dengan pragmatisnya. Skuad pilihannya kali ini agak kurang tepat, karena kali ini ia gagal memaksimalkan lini tengahnya. Inter memiliki gelandang destroyer macam Thiago Motta, Esteban Cambiasso, Javier Zanetti yang telah mengenal gaya permainan Lionel Messi dengan sangat baik. Motta pernah bermain dengan Messi selama hampir 3 musim, sedangkan Zanetti dan Cambiasso adalah rekan Messi di timnas Argentina. Sudah 5 laga El Classico sejak Pep menangani Barca pertama kali dan ia banyak memainkan Messi sebagai penyerang tengah yang lebih sering turun ke lini tengah, bukan sebagai winger, posisi natural Messi. Sengaja demi mengelabui taktik musuh, Pep memainkan skema ini. Messi akan lebih banyak menusuk lewat tengah dengan posisi tersebut, dan kali ini Mou kurang jeli dengan hanya memainkan Alonso dan Khedira sebagai pendobrak gerakan Messi. Lassana Diarra kemudian dimasukkan dan skema berubah menjadi 4-3-3, namun tetaplah tidak efektif untuk mengamankan pergerakan Messi, bahkan Barca malah menambah 3 gol di babak kedua. Pemilihan pemain yang kurang tepat, Mou.

Setidaknya Jose Mourinho masih memiliki waktu hingga 17 April 2011 untuk bekerja keras memulihkan luka publik Madrid atas kekalahan ini dan membalasnya di Santiago Bernabeu nanti. Kita nantikan!

Senin, 22 November 2010

Indonesia dan Arema nya


Mungkin kita, pecinta sepakbola di tanah air akan sangat kecewa dengan keegoisan stasiun televisi berlambang rajawali yang lebih memilih menayangkan aktris Jasmine Wildblood dkk yang berakting di sinetron dibanding laga persahabatan Indonesia menghadapi saudara muda kita, Timor Leste. Indonesia memang menang 6-0 dalam laga tersebut, namun kita sungguh kecewa karena hanya dapat menyaksikan cuplikan gol per gol via highlight. Alfred Riedl untuk pertama kalinya menurunkan duet pemain naturalisasi, Cristian 'El Loco' Gonzales asal Uruguay dan Irfan Bachdim yang sebelumnya berpaspor Belanda. El Loco yang selama bermusim - musim, entah berapa musim telah menjadi top skor liga Indonesia sejak bermain di PSM Makassar hingga terakhir sebagai punggawa Persib Bandung berhasil mencetak 2 gol. Padahal, sebelumnya ia mengatakan tidak mempunyai ambisi untuk mencetak gol. Memang naluri tidak bisa dibohongi. Sedangkan, 4 gol lain disumbang oleh Muhammad Ridwan, Oktovianus Maniani, Bambang Pamungkas, dan Yongki Aribowo.

Yang patut digarisbawahi dari skuad baru Indonesia yang dipersiapkan menghadapi Piala AFF 2010 ini adalah banyaknya muka baru yang bakal mengenakan kaos timnas. Sebut saja Zulkifli Syukur, Beny Wahyudi, Ahmad Bustomi, Oktovianus Maniani, Yongki Aribowo, Kurnia Meiga, Dendi Santoso, dan tentu 2 warga 'asing' Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim. Menarik menyaksikan pemain asal Arema Indonesia yang mendominasi pemilihan skuad Garuda. Sebelumnya mungkin kita kurang akrab dengan nama - nama seperti Zulkifli Syukur, Beny Wahyudi, Ahmad Bustomi, Dendi Santoso, Kurnia Meiga, dan Yongki Aribowo. Nama yang disebut terakhir memang belum terdaftar sebagai pemain Arema Indonesia saat mereka merengkuh gelar juara musim lalu, namun untuk nama - nama sebelumnya, mereka telah berhasil membuktikan bahwa bakat mereka begitu bagus untuk hanya sekedar menjadi pengangguran kala tim nasional berlaga.

Indonesia, atau mungkin lebih tepatnya Alfred Riedl, mungkin harus mengucapkan terima kasih kepada Robert Rene Alberts, pelatih Arema Indonesia yang sukses mengorbitkan bakat - bakat tersebut sehingga mampu memberikan kontribusi maksimal bagi Arema musim lalu. Mungkin kita tidak akan mendengar nama - nama tersebut jika saja Alberts tidak menggunakan pemain tersebut sepanjang musim 2009/2010. Belum lagi Kurnia Meiga yang terpilih sebagai pemain terbaik Djarum Indonesia Super League musim lalu. Jika saya tidak salah, inilah kali pertama gelar tersebut jatuh ke tangan penjaga gawang. Alberts juga sebenarnya berhasil 'mengapungkan' nama bakat - bakat lain, selain nama yang telah disebut di atas, sebut saja Juan Revi, Muhammad Fakhrudin, Purwaka Yudhi, Irfan Raditya, Ronni Firmansyah, dan sederet bakat - bakat lain yang menjadi perhatian Alberts kala menangani Arema Indonesia. Mereka memang belum mendapat panggilan membela timnas, tapi mereka bukanlah pemain yang sekedar memenuhi kuota skuad. Cara yang dilakukan Alberts dengan memadukan nama - nama tersebut dengan nama senior macam Pierre Njanka (Kamerun), Esteban Guillen (Uruguay) dan duo Singapura Mohammed Ridhuan dan si bengal Noh Alam Shah terbukti manjur. Sinar pemain binaan Arema tersebut bukan makin tertutup oleh skill mentereng pemain asing, justru menjadi lecutan untuk bermain lebih baik di setiap pertandingannya dan menjadi panutan yang baik dalam bermain. Leading by example. Dengan mengesampingkan isu bahwa Arema musim lalu 'diberi' juara oleh BLI, karena Arema tidak menggunakan APBD dalam pembiayaannya, mereka memang tampil menawan. Arema menunjukkan model tim sepakbola modern yang sering kita lihat di liga - liga Eropa, organisasi permainan yang terstruktur, suporter yang tidak rusuh, manajemen yang efektif dan efisien, skuad yang tidak sering mengalami pergantian, dan penggunaan homegrown players.

Inilah yang mungkin diharapkan dari pecinta sepakbola tanah air, wajah segar yang mengenakan kaos timnas, tidak melulu kita melihat Ponaryo Astaman yang penampilannya mengalami penurunan, atau posisi bek kiri yang sering dihuni Isnan Ali, juga akhirnya Bambang Pamungkas setidaknya lega memiliki pelapis muda macam Dendi Santoso dan Yongki Aribowo. Semoga Alfred Riedl dan 11 Garuda lain dapat berbicara banyak di Piala AFF, setidaknya mampu lolos dari grup yang terbilang sulit, karena tergabung dengan raja AFF Cup, Thailand dan si tetangga menyebalkan, Malaysia. Juara adalah kata yang agak janggal bagi sepakbola Indonesia, tapi bukan tidak mungkin dan begitu indahnya predikat tersebut mampu kita rengkuh Desember nanti.

Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang...

Kamis, 09 September 2010

Superbia in Praelia


Langkah Manchester City mendatangkan pemain bintang di awal musim sempat menuai berbagai pro dan kontra. Banyak yang menganggap mereka telah merusak nilai-nilai dasar sepakbola sebagai olahraga dengan segala elemen humanitasnya. Namun, sang pemilik, si raja minyak dari Dubai, Sheikh Mansour seakan memakai kacamata kuda dan tanpa tedeng aling tetap menggelontorkan jutaan poundsterling demi membangun tim yang dipersiapkan sebagai pesaing the Big Four.

Jerome Boateng, Yaya Toure, David Silva, Mario Balotelli, James Milner, adalah nama-nama yang didatangkan pada musim panas kali ini. Padahal Manchester City sebelumnya telah memiliki nama besar lainnya macam Carlos Tevez, Emmanuel Adebayor, Kolo Toure, Nigel De Jong, dll, tapi sang pemilik merasa nama-nama itu belum cukup "besar" untuk memenuhi ambisinya membawa Manchester City menembus Liga Champions. Belum lagi talenta-talenta asli Inggris yang menghiasi skuad Roberto Mancini seperti Joe Hart, Micah Richards, Joleon Lescott, Wayne Bridge, Gareth Barry, Shaun Wright-Phillips, Adam Johnson, dan terakhir James Milner.

Nama-nama yang belakangan disebut merupakan hampir setengah dari jumlah keseluruhan skuad tim nasional Inggris. Bahkan pada saat pertandingan Inggris melawan Swiss pada kualifikasi Piala Eropa 2012, terhitung 6 pemain terpilih sebagai tim inti Three Lions, dan lebih istimewanya lagi, winger mereka, Adam Johnson berhasil menyarangkan 1 dari 3 gol kemenangan Inggris malam itu. Minus Wayne Bridge dan Micah Richards yang tidak diikutsertakan Don Fabio, Manchester City merupakan tim yang paling banyak menyumbangkan pemainnya kepada tim nasional Inggris.

Jadi, masihkan Manchester City menjadi musuh utama publik Inggris?

Selasa, 10 Agustus 2010

8 Pemain Berbahasa Spanyol di Setan Merah


Manchester United merekrut Javier 'Chicharito' Hernandez dari Chivas Guadalajara dengan bandrol 6 juta poundsterling. Jumlah yang dianggap Sir Alex Ferguson cukup murah. Sir Alex menganggap harga Chicharito dipastikan akan melambung setelah Piala Dunia 2010 mengingat penampilannya yang apik, terlebih ia juga menciptakan 2 gol saat Meksiko mengalahkan Prancis 2-0 di fase grup dan ketika Meksiko dihajar Argentina 4-1 di perdelapan final.

Javier 'Chicharito' Hernandez adalah pemain berbahasa Spanyol ke-8 yang pernah direkrut Sir Alex di era Premiership. Sebelumnya telah ada 7 pemain yang telah membela panji Setan Merah. Berikut ulasannya:

1. Diego Forlan. 2 golnya ke gawang ke Liverpool pada musim 2002/2003 adalah prestasinya paling legendaris. Ia pernah dijuluki Diego For'Loan' saking mandulnya. Hingga ketika ia mencetak gol pertamanya bagi United, komentator pertandingan kala itu berteriak: 'Hallelujah!'. Setelah meninggalkan United, ia berlabuh di Villareal sebelum hijrah ke Atletico Madrid. Prestasi tertingginya adalah ketika ia menyabet gelar Golden Ball di Piala Dunia 2010 dengan torehan 5 golnya dan berhasil membawa Uruguay duduk di peringkat 4.


2. Juan Sebastian Veron. Playmaker plontos yang memiliki visi permainan kelas atas.
Diboyong dari Lazio dengan bandrol 28 juta poundsterling. Ia harus bersaing dengan Nicky Butt, Roy Keane, Paul Scholes, dan bahkan Phil Neville kala itu. Sempat mempersembahkan trofi Liga Inggris pada musim 2002/2003. Ketika Roman Abramovich datang ke Inggris dan mengakuisisi Chelsea, Seba -panggilan akrab Veron- langsung masuk daftar belanja the Roman Emperor. Ia dilego ke Chelsea. Lalu malang melintang ke Inter Milan, hingga pulang kampung dan bermain untuk Estudiantes La Plata. Sempat juga tampil di Piala Dunia 2010 di usianya yang ke-35.


3. Ricardo Lopez. Namanya kurang mentereng. Kalah bersaing dengan Fabien Barthez kala itu. Namun, satu penyelamatan penaltinya saat debut melawan Blackburn tentu diingat sebagai salah satu 'persembahan'nya bagi United. Kini bermain untuk Osasuna.


4. Gabriel Heinze. Bek sangar asal Argentina yang langsung mencetak gol di pertandingan debutnya kala United jumpa Bolton Wanderers di musim 2004/2005. Ia kemudian dilego ke Real Madrid saat Patrice Evra mulai mengkudeta posisinya di bek kiri pertahanan United. Namun, posisinya di Argentina tidak tergantikan. Ia bermain di 4 pertandingan yang dijalani Argentina di Piala Dunia dan mencetak 1 gol ke gawang Nigeria di Piala Dunia 2010. Heinze bermain untuk Marseille di Ligue 1.


5. Carlos Tevez. Sang Apache dicap pengkhianat oleh fans United karena ia menyeberang ke Eastlands. Namun, kombinasinya dengan Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo di musim 2007/2008 sukses memberikan double bagi United, yakni Liga Inggris dan Liga Champions. 'Who's that twat from Argentina?' Begitulah kira-kira publik Mancunian menyebutnya kini.


6. Gerard Pique. Atletis, gaya permainan yang elegan, didukung jenggot tebal yang sudah sangat cukup membuat para wanita rela bangun malam untuk menyaksikannya beraksi saat Piala Dunia 2010 berlangsung. Itulah yang terjadi ketika ia telah bermain bagi Barcelona. Saat masih menjadi reserve di United, Pique hanya menjadi pemain spesialis pinjaman, karena duet Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic kala itu sedang pada puncak permainannya. Ia direkrut kembali oleh klub semasa kecilnya, Barcelona dan bertransformasi menjadi salah satu bek terbaik di dunia saat ini.


7. Luis Antonio Valencia. Sayap kanan klasik. Memiliki dribel dan umpan silang yang mematikan. Ialah kunci sukses mengapa Wayne Rooney begitu produktif musim lalu, dan Rooney pun secara eksplisit menyebutnya sebagai pemain yang turut memiliki andil pada 34 golnya musim lalu. Winger yang berperawakan dingin ini direkrut dari Wigan Athletic seharga 26 juta poundsterling dan diproyeksikan sebagai pengganti Cristiano Ronaldo yang hijrah ke Real Madrid pada musim 2009/2010.

Rabu, 21 Juli 2010

Liverpool Di Bawah Panji Britania

18 trofi Liga Inggris, 5 trofi Liga Champions, 7 trofi Piala FA, 7 trofi Piala Liga, dan masih banyak lagi gelar prestisius yang diraih oleh Liverpool. Kita tentu tahu betapa digdayanya klub asal grup musik The Beatles ini pada medio 1970an dan 1980an. Mereka seakan menjadi raja baik di tanah Britania maupun di Eropa.

Di kala jayanya, Liverpool memiliki pelatih bertangan dingin macam William 'Bill' Shankly dan suksesornya, Bob Paisley. Di bawah kendali kedua pelatih ini Liverpool mampu dengan mudah mendulang trofi demi trofi ke Anfield, markas mereka. Bill Shankly, pelatih kawakan asal Skotlandia, kala itu ditunjuk untuk memperbaiki prestasi Liverpool yang sempat terpuruk pada tahun 1950an. Mereka tenggelam di bawah bayang - bayang rival abadinya, Manchester United, dan tim lain macam Leeds United, Tottenham Hotspur, dan Everton. Di bawah kendali Bill, Liverpool berhasil meraih 3 gelar trofi Liga Inggris, dan 1 trofi Piala FA. Namun, keistimewaan Bill adalah hubungannya dengan suporter Liverpool. Ia berhasil meraih hati para fans dan ia jugalah yang meletakkan pondasi awal kejayaan Liverpool.

Sepeninggal Bill Shankly, yang mundur pada 1974, manajemen Liverpool kala itu menunjuk Bob Paisley sebagai penggantinya. Pelatih berperawakan gempal ini langsung 'tancap gas'. Di musim pertamanya ia langsung merebut gelar juara Liga Inggris dari tangan Derby County yang dilatih Brian Clough, pelatih legendaris Inggris. Dan setelah itu Liverpool berhasil menjuarai kompetisi paling bergengsi di Eropa, yakni Liga Champions sebanyak 3 kali di bawah Bob Paisley (1977, 1978, 1981) dan Piala Eropa(UEFA Cup, atau sekarang lebih dikenal dengan Europa League) pada 1984. Ini adalah prestasi fenomenal bagi klub Inggris mengingat mereka kerap tenggelam di bawah raksasa Eropa macam Ajax Amsterdam, Bayern Munchen, dan Juventus.

Kita kembali ke masa sekarang. Masa dimana Liverpool tidak lagi merajai Inggris. Masa dimana Liverpool belum pernah meraih lagi trofi Liga Inggris sejak 20 tahun silam. Namun, secercah asa tentu boleh dikibarkan jika melihat pergerakan Liverpool di bursa transfer musim panas ini. Pelatih asal Spanyol, Rafael Benitez dipecat, kemudian digantikan oleh Roy Hodgson, pelatih yang sukses mengantar Fulham hingga final Europa League musim lalu. Kemudian Liverpool sukses mendaratkan Joe Cole yang berstatus bebas transfer setelah dilepas Chelsea akhir musim sebelumnya, juga Milan Jovanovic gelandang asal Serbia. Dan rekrutan Britania lainnya macam Jonjo Shelvey, Danny Wilson yang disebut - sebut sebagai The New Alan Hansen.

Sukses Liverpool di era 1970an dan 1980an ditentukan oleh punggawa - punggawa asal Britania Raya macam Kevin Keegan, Ray Clemence, Phil Thompson, Terry McDermott yang berasal dari Inggris Raya, Kenny Dalglish dan Graeme Souness yang berasal dari Skotlandia, dan Ian Rush yang berasal dari Wales.

Akankah Liverpool kembali berjaya dengan konten Britania nya?

Selasa, 13 Juli 2010

10 Hal Yang Bikin Kita Tidak Bakal Melupakan Piala Dunia 2010

Pesta sepakbola paling megah itu telah usai. Kita harus berdoa kepada Tuhan agar diberikan umur setidaknya hingga 4 tahun ke depan untuk kembali menyaksikan ajang terbesar di jagat raya yakni Piala Dunia. Piala Dunia 2010 memang telah berakhir, namun tentu masih banyak hal-hal yang dapat kita kenang dari perhelatan 4 tahun sekali tersebut. Saya mencoba mengumpulkan 10 hal yang membuat kita akan mengenang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

10. Jabulani dan Vuvuzela
Bola resmi Piala Dunia 2010 keluaran Adidas ini awalnya sempat menimbulkan kontroversi lantaran performanya yang kurang memuaskan. Bahkan, banyak yang menganggap Jabulani adalah bola terburuk sepanjang masa. Jabulani sendiri berasal dari bahasa Zulu yang berarti merayakan.

Terompet khas Afrika Selatan yang bunyinya lebih mirip sekumpulan lebah ini sungguh meresahkan penonton pada awal penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Namun, seiring berakhirnya Piala Dunia, kita juga akan merindukan bunyi nyaring yang ditimbulkan Vuvuzela di setiap pertandingan yang kita saksikan.

9. Air Mata Jong Tae-se
Striker timnas DPR Korea ini secara emosional menangis ketika menyanyikan lagu kebangsaannya sebelum pertandingan melawan Brazil. Pure nationalism. Meski akhirnya DPR Korea tersingkir di penyisihan grup, tangisan Jong merupakan highlight dari penyelenggaraan Piala Dunia kali ini.

8. Pulangnya finalis Piala Dunia 2006
Prancis dan Italia bertemu...di bandara. Begitulah jokes yang banyak dilontarkan khalayak setelah melihat kegagalan 2 finalis Piala Dunia edisi sebelumnya ini lolos dari babak penyisihan grup. Jika Prancis tersingkir lantaran dilanda konflik internal, maka sang 'kawan' tersingkir lebih karena kegagalan sang pelatih, Marcelo Lippi memilih pemain yang cocok untuk membela juara dunia 2006 tersebut. Banyak pemain yang justru tidak berkontribusi banyak seperti Simone Pepe, Federico Marchetti, Alberto Gilardino, dan bahkan Andrea Pirlo yang baru tampil pada pertandingan ke-3. Well, setidaknya Riccardo Montolivo baru akan berusia 29 tahun 4 tahun lagi.

7. Swiss 1 Spanyol 0
Kejutan yang pertama kali terjadi di babak penyisihan grup. Kedigdayaan juara Eropa, Spanyol 'digoyang' lewat gol semata wayang Gelson Fernandes. Pasar taruhan pun sedikitnya terkena dampak dari kekalahan Spanyol ini. Tapi kita akhirnya tahu siapa yang tertawa pada akhir turnamen.

6. Panser Muda Membabat Inggris dan Argentina dengan 4 gol
Inggris, si tim pesakitan yang selalu jadi favorit juara dan Argentina, tim yang mengumpulkan 9 poin di babak penyisihan grup. Keduanya luluh lantak seketika saat mereka bertemu Jerman. Dimotori Mesut Ozil, Bastian Schweinsteiger, Sami Khedira, Miroslav Klose dkk, Jerman berhasil melibas kedua tim tersebut keduanya dengan 4 gol bersarang di gawang musuh. Jerman menghancurkan Inggris 4-1 yang-seharusnya 4-2 jika saja wasit Jorge Larrionda asal Uruguay mengesahkan tendangan Frank Lampard yang secara kasat mata telah melewati garis gawang Manuel Neuer. Saya tidak akan membahas lebih panjang apalagi berbicara mengenai berita tentang rencana FIFA mengulang pertandingan tersebut yang jelas-jelas tidak akan terjadi di dunia manapun.

Pemain terbaik dunia tahun 2009, Lionel Andres Messi ternyata tidak mampu membantu negaranya Argentina untuk mengalahkan Jerman. Argentina tidak berkutik menghadapi Jerman yang tampil trengginas, terlebih Bastian Schweinsteiger yang menjadi momok bagi Messi sekaligus bagi Javier Mascherano di lini tengah, karena Schweini-panggilan Schweinsteiger sukses mengunci pergerakan Messi dan juga dengan mudahnya menerobos pertahanan Argentina. Ozil, adalah nama lain yang menjadi buah bibir setelah permainan gemilangnya di fase grup.

5. Ghana
Sang penyelamat muka Afrika. Mereka berhasil mengikuti langkah Kamerun di Piala Dunia 1990 dan Senegal di Piala Dunia 2002 dengan menjejakkan kaki di perempat final. Meski akhirnya takluk dari Uruguay lewat drama adu penalti, tapi rakyat Afrika setidaknya bisa berbangga hati karena salah satu wakilnya mampu berbicara banyak. Dan mereka tentu akan mempunyai musuh baru, yakni Luis Suarez.

4. Diego Forlan, sang penakluk Jabulani
Ronaldo, Messi, Kaka pun seharusnya tercenung melihat apa yang dilakukan Forlan di Piala Dunia kali ini. Karena di luar dugaan Forlan sukses 3 kali menjebol gawang musuh lewat tendangan kerasnya dari luar kotak penalti. Saya rasa ia adalah peraih Golden Ball atas kegemilangannya menaklukkan Jabulani, bukan atas pencapaian 5 golnya.

3. Kiper terbaik Piala Dunia 2010, Luis Suarez

Ghana bisa saja lolos ke semifinal, jika 'kiper kedua' Uruguay, Luis Suarez tidak menepis bola yang sudah di mulut gawang. Ghana kemudian berpeluang mencetak gol lewat tendangan penalti. Namun, Asamoah Gyan yang pada fase grup mencetak 2 gol lewat titik putih, kali ini harus bertemu kesialannya, karena penaltinya mengenai mistar dan gagal memberi kemenangan untuk Ghana yang telah di depan mata. Suarez, yang sebelumnya menangis tersedu karena kebodohannya, langsung bersorak girang melihat Asamoah Gyan gagal memanfaatkan penalti. FIFA seharusnya memberikan Lev Yashin Award kepada Luis Suarez...

2. Gol pamungkas si mungil, Andres Iniesta
Rakyat Spanyol dibuat ketar-ketir oleh permainan keras Belanda, hingga pada menit 116 satu sepakan half-volley Iniesta melesak keras ke kanan gawang Maarten Stekelenburg dan sepakan tersebut bisa jadi adalah sepakan paling bersejarah dalam persepakbolaan Spanyol, karena ia berhasil membawa Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya lewat golnya tersebut. Pahlawan.

1. Paul The Octopus

Tidak perlu penjelasan lebih lanjut :P