Tampilkan postingan dengan label World Cup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label World Cup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Juli 2010

10 Hal Yang Bikin Kita Tidak Bakal Melupakan Piala Dunia 2010

Pesta sepakbola paling megah itu telah usai. Kita harus berdoa kepada Tuhan agar diberikan umur setidaknya hingga 4 tahun ke depan untuk kembali menyaksikan ajang terbesar di jagat raya yakni Piala Dunia. Piala Dunia 2010 memang telah berakhir, namun tentu masih banyak hal-hal yang dapat kita kenang dari perhelatan 4 tahun sekali tersebut. Saya mencoba mengumpulkan 10 hal yang membuat kita akan mengenang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

10. Jabulani dan Vuvuzela
Bola resmi Piala Dunia 2010 keluaran Adidas ini awalnya sempat menimbulkan kontroversi lantaran performanya yang kurang memuaskan. Bahkan, banyak yang menganggap Jabulani adalah bola terburuk sepanjang masa. Jabulani sendiri berasal dari bahasa Zulu yang berarti merayakan.

Terompet khas Afrika Selatan yang bunyinya lebih mirip sekumpulan lebah ini sungguh meresahkan penonton pada awal penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Namun, seiring berakhirnya Piala Dunia, kita juga akan merindukan bunyi nyaring yang ditimbulkan Vuvuzela di setiap pertandingan yang kita saksikan.

9. Air Mata Jong Tae-se
Striker timnas DPR Korea ini secara emosional menangis ketika menyanyikan lagu kebangsaannya sebelum pertandingan melawan Brazil. Pure nationalism. Meski akhirnya DPR Korea tersingkir di penyisihan grup, tangisan Jong merupakan highlight dari penyelenggaraan Piala Dunia kali ini.

8. Pulangnya finalis Piala Dunia 2006
Prancis dan Italia bertemu...di bandara. Begitulah jokes yang banyak dilontarkan khalayak setelah melihat kegagalan 2 finalis Piala Dunia edisi sebelumnya ini lolos dari babak penyisihan grup. Jika Prancis tersingkir lantaran dilanda konflik internal, maka sang 'kawan' tersingkir lebih karena kegagalan sang pelatih, Marcelo Lippi memilih pemain yang cocok untuk membela juara dunia 2006 tersebut. Banyak pemain yang justru tidak berkontribusi banyak seperti Simone Pepe, Federico Marchetti, Alberto Gilardino, dan bahkan Andrea Pirlo yang baru tampil pada pertandingan ke-3. Well, setidaknya Riccardo Montolivo baru akan berusia 29 tahun 4 tahun lagi.

7. Swiss 1 Spanyol 0
Kejutan yang pertama kali terjadi di babak penyisihan grup. Kedigdayaan juara Eropa, Spanyol 'digoyang' lewat gol semata wayang Gelson Fernandes. Pasar taruhan pun sedikitnya terkena dampak dari kekalahan Spanyol ini. Tapi kita akhirnya tahu siapa yang tertawa pada akhir turnamen.

6. Panser Muda Membabat Inggris dan Argentina dengan 4 gol
Inggris, si tim pesakitan yang selalu jadi favorit juara dan Argentina, tim yang mengumpulkan 9 poin di babak penyisihan grup. Keduanya luluh lantak seketika saat mereka bertemu Jerman. Dimotori Mesut Ozil, Bastian Schweinsteiger, Sami Khedira, Miroslav Klose dkk, Jerman berhasil melibas kedua tim tersebut keduanya dengan 4 gol bersarang di gawang musuh. Jerman menghancurkan Inggris 4-1 yang-seharusnya 4-2 jika saja wasit Jorge Larrionda asal Uruguay mengesahkan tendangan Frank Lampard yang secara kasat mata telah melewati garis gawang Manuel Neuer. Saya tidak akan membahas lebih panjang apalagi berbicara mengenai berita tentang rencana FIFA mengulang pertandingan tersebut yang jelas-jelas tidak akan terjadi di dunia manapun.

Pemain terbaik dunia tahun 2009, Lionel Andres Messi ternyata tidak mampu membantu negaranya Argentina untuk mengalahkan Jerman. Argentina tidak berkutik menghadapi Jerman yang tampil trengginas, terlebih Bastian Schweinsteiger yang menjadi momok bagi Messi sekaligus bagi Javier Mascherano di lini tengah, karena Schweini-panggilan Schweinsteiger sukses mengunci pergerakan Messi dan juga dengan mudahnya menerobos pertahanan Argentina. Ozil, adalah nama lain yang menjadi buah bibir setelah permainan gemilangnya di fase grup.

5. Ghana
Sang penyelamat muka Afrika. Mereka berhasil mengikuti langkah Kamerun di Piala Dunia 1990 dan Senegal di Piala Dunia 2002 dengan menjejakkan kaki di perempat final. Meski akhirnya takluk dari Uruguay lewat drama adu penalti, tapi rakyat Afrika setidaknya bisa berbangga hati karena salah satu wakilnya mampu berbicara banyak. Dan mereka tentu akan mempunyai musuh baru, yakni Luis Suarez.

4. Diego Forlan, sang penakluk Jabulani
Ronaldo, Messi, Kaka pun seharusnya tercenung melihat apa yang dilakukan Forlan di Piala Dunia kali ini. Karena di luar dugaan Forlan sukses 3 kali menjebol gawang musuh lewat tendangan kerasnya dari luar kotak penalti. Saya rasa ia adalah peraih Golden Ball atas kegemilangannya menaklukkan Jabulani, bukan atas pencapaian 5 golnya.

3. Kiper terbaik Piala Dunia 2010, Luis Suarez

Ghana bisa saja lolos ke semifinal, jika 'kiper kedua' Uruguay, Luis Suarez tidak menepis bola yang sudah di mulut gawang. Ghana kemudian berpeluang mencetak gol lewat tendangan penalti. Namun, Asamoah Gyan yang pada fase grup mencetak 2 gol lewat titik putih, kali ini harus bertemu kesialannya, karena penaltinya mengenai mistar dan gagal memberi kemenangan untuk Ghana yang telah di depan mata. Suarez, yang sebelumnya menangis tersedu karena kebodohannya, langsung bersorak girang melihat Asamoah Gyan gagal memanfaatkan penalti. FIFA seharusnya memberikan Lev Yashin Award kepada Luis Suarez...

2. Gol pamungkas si mungil, Andres Iniesta
Rakyat Spanyol dibuat ketar-ketir oleh permainan keras Belanda, hingga pada menit 116 satu sepakan half-volley Iniesta melesak keras ke kanan gawang Maarten Stekelenburg dan sepakan tersebut bisa jadi adalah sepakan paling bersejarah dalam persepakbolaan Spanyol, karena ia berhasil membawa Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya lewat golnya tersebut. Pahlawan.

1. Paul The Octopus

Tidak perlu penjelasan lebih lanjut :P

Senin, 05 Juli 2010

Ada Apa Dengan Argentina?



9 poin dari 3 pertandingan. Mencetak 7 gol dan hanya kemasukan 1 gol sepanjang babak penyisihan grup. Sungguh menakutkan bukan Argentina? Seharusnya, ya. Jangankan dari perolehan gol atau poinnya, jika melihat barisan depannya saja sudah membuat lawan 'jiper'. Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Carlos Tevez, Sergio 'Kun' Aguero, Diego Milito, dan Martin Palermo. Ibarat senapan, Argentina dirasa-rasa tidak akan kehabisan amunisi untuk memborbardir lawan jika memiliki ujung tombak macam mereka.

Kemenangan 3-1 atas Meksiko di perdelapan final seakan mengulang perjalanan mereka di Piala Dunia 2006 yakni menang atas Meksiko dan jumpa Jerman di perempat final. Dan hasilnya pun juga 'terpaksa' harus berulang juga. Argentina berada di sisi kalah. Hanya saja jika 4 tahun lalu, tim Tango harus berjibaku dengan Jerman hingga adu penalti, kali ini mereka langsung rontok di waktu normal. 4-0. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai skor ini. Sesak, sedih, kesal, emosi bisa jadi campur aduk menjadi satu untuk para fans-fans Argentina. Terlalu menyedihkan bahkan.

Saya mencoba merumuskan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Argentina. Juara dunia 2 kali ini hanya menjadi bulan-bulanan Panser Muda Jerman. Sekali lagi Diego Maradona harus rela dikalahkan Jerman, seperti apa yang terjadi di final Piala Dunia 1990. Berikut hal-hal yang dianggap menjadi penyebab Argentina hancur di tangan Jerman dan gagal di Piala Dunia:

1. Gelandang tengah. Mungkin saya juga akan pusing tujuh keliling jika harus memilih apakah harus memainkan Tevez atau Aguero, atau memilih antara Higuain dan Milito. Akan tetapi, sepakbola adalah permainan kolektifitas tim. Keseimbangan antara menyerang dan bertahan harus dijaga sebaik mungkin selama pertandingan. Dengan 4-3-3, Dios Diego Maradona memainkan Angel Di Maria dan Maxi Rodriguez sebagai gelandang (tengah). Suatu peran yang agak tabu mungkin bagi kedua pemain yang berposisi sayap dan bernaluri menyerang jika harus membantu merangkai serangan dan turun hingga ke jantung pertahanan. Tidak hadirnya Cambiasso bisa jadi krusial. Memang, belakangan diketahui bahwa Cambiasso tidak dipanggil lantaran berseteru dengan Juan Sebastian Veron. Anehnya, Diego tidak jua memainkan Veron di pertandingan melawan Jerman.

Mascherano yang berperan gelandang tengah, seakan 'ditinggal' sendirian di posisi tersebut, karena memang Di Maria dan Maxi tidak cocok bermain sebagai gelandang tengah. Veron mungkin akan lebih cocok bermain mendampingi Mascherano di tengah. Hasilnya? Scweinsteiger, Ozil, Khedira, trio gelandang Jerman ini bermain begitu bebas di area pertahanan Argentina. Sering sekali Argentina kecolongan melalui gol-gol serangan balik akibat terlambat turunnya 3 gelandang Argentina.

2. Ariel Garce. Nama bek Colon ini mungkin agak asing di telinga anda. Ya, memang. Ia dipanggil Diego Maradona lantaran sang pelatih bermimpi memenangkan Piala Dunia 2010 beberapa saat sebelum Piala Dunia dimulai. Dan di mimpinya Diego hanya mengingat nama Ariel Garce yang berada di skuadnya. Bagaimana dengan nama-nama seperti Pablo Zabaleta, Fabricio Coloccini, dan Javier Zanetti?

3. Kebobolan di menit awal. Tidak ada yang lebih 'menggoyang' mental bertandanding selain gol di menit-menit awal. Sejak dibobol Thomas Muller di menit ke-3, Argentina seakan kehilangan ritme permainan. Tiap pemain bermain individualistis, kecuali Messi yang memang selalu ingin menggiring bek-bek lawan untuk membuka ruang bagi Tevez dan Higuain. Belum lagi bek-bek yang begitu mudah dieksploitasi oleh barisan depan Jerman.

4. Diego Maradona bukan pelatih yang baik. Saya sepenuhnya percaya terhadap komentar Pele tentang Maradona yang ia anggap bukan pelatih yang baik. Maradona adalah legenda hidup Argentina, panutan anak-anak penggila sepakbola yang bermain di jalanan, bahkan Tuhan, sebuah gereja menganggap Diego Maradona adalah sosok yang pantas dipuja berkat sihirnya di lapangan hijau saat masih menjadi pemain. Namun, ketika berprofesi sebagai pelatih sepakbola lain ceritanya. Maradona tentu hanya menggunakan pengalamannya sebagai pemain untuk mengaplikasikan taktiknya di lapangan, ditambah dengan masukan-masukan dari asisten pelatih atau mungkin justru lebih banyak sang asisten yang memberi masukan bagi penampilan Lionel Messi dkk. Ia tidak sepenuhnya paham mengenai pola-pola permainan, terbukti dengan poin 1 pertama yang saya telah jelaskan. Pemain pun diseleksi secara random. 100 pemain telah dipanggil pada babak kualifikasi. Diego Maradona adalah legenda hidup. Cukup sebagai legenda hidup, el Dios!

Sabtu, 26 Juni 2010

Asia Rasa Lokal

Beberapa hari lalu saya melihat teman saya di situs microblog Twitter 'berkicau', "Jangan taruhan di Piala Dunia kali ini, skornya susah ketebak!". Kalau dirasa-rasa benar juga adanya. Siapa yang mengira 2 wakil Asia, Jepang dan Republik Korea lolos dari hadangan tim-tim kuat macam Nigeria, Yunani, Denmark, dan Kamerun? Nyatanya mereka mampu mengalahkan semua prediksi dan lolos ke babak 16 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002 yang berlangsung di rumah mereka sendiri.

Keberhasilan mereka mencapai babak kedua Piala Dunia kali ini tidak terlepas tangan dingin pelatih lokal mereka, yakni Takeshi Okada (Jepang) dan Huh Jung-Moo (Korea).



Takeshi Okada, pelatih yang juga membawa Jepang lolos ke Piala Dunia 1998 di Prancis ini kembali melatih tim Negeri Matahari Terbit sejak 2007 menggantikan Ivica Osim yang mundur dari kursi kepelatihan karena menderita stroke. Prestasi terbaiknya adalah ketika ia terpilih menjadi pelatih terbaik J-League musim 2003 dan 2004 menyamai pencapaian Arsene Wenger dan Osvaldo Ardiles, 2 pelatih legendaris yang juga pernah merasakan atmoster J-League pada medio 1990-an. Di Piala Dunia nya yang kedua kali ini ia memiliki 'senjata' macam Keisuke Honda yang telah membuktikan sebagai calon bintang Jepang di Piala Dunia kali ini, juga Yasuhito Endo, pemain terbaik Asia 2009, Marcus Tulio Tanaka, bek kelahiran Brazil yang selalu tampil spartan di setiap pertandingannya. Belum lagi nama-nama macam Makoto Hasebe, Daisuke Matsui, Takayuki Morimoto, Shunsuke Nakamura yang berhasil menancapkan kuku di liga-liga Eropa. Dengan modal pemain-pemain macam mereka, rasanya bukan tidak mungkin Nippon mampu membuat sejarah baru, yakni lolos ke perempat final Piala Dunia. Tapi, jangan lupa, masih ada La Albirroja Paraguay yang siap menghadang langkah mereka.



Setelah bertahun-tahun sepakbola Korea 'dijajah' oleh meneer-meneer Belanda, kali ini mereka mencoba peruntungan dengan menunjuk pelatih lokal, Huh Jung-Moo. Jika berbicara prestasi Korea di Piala Dunia, rasanya kita akan selalu ingat tahun 2002 saat mereka berhasil menembus semifinal setelah menumbangkan raksasa Eropa, Italia dan Spanyol. Guus Hiddink dianggap dewa di Negeri Ginseng tersebut. Lalu, seakan-akan tersihir oleh sentuhan tangan dingin Hiddink, Korea mempercayakan tampuk kepelatihan ke Dick Advocaat dan Pim Verbeek. Namun keduanya gagal mengulangi pencapaian Hiddink yakni menembus 4 besar Piala Dunia. Kini, di tangan Huh Jung-Moo, Korea mampu lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2010. Pelatih yang terkenal dengan tendangan taekwondo nya ke paha Diego Maradona di Piala Dunia 1986 itu mampu mengembalikan kepercayaan diri Ksatria Taeguk dan bersama Park Ji-Sung, Park Chu-Young, Lee Chung-Yong dkk mereka berkesempatan mengulangi prestasi 2002, yakni menembus 4 besar Piala Dunia. Namun, Uruguay berdiri kokoh untuk menghalangi ambisi mereka tersebut.

Rasa lokal tidak terlalu buruk kan?

Senin, 21 Juni 2010

Piala Dunia, Kejutan dan Kebanggaan



Saya menulis ini hanya beberapa menit setelah pertandingan antara Portugal melawan DPR Korea yang berakhir dengan mengenaskan untuk DPR Korea, 7-0. Namun saya tidak akan membahas / dikejar deadline untuk menyerahkan laporan pertandingan.

Saya sedang terkagum-kagum dengan Piala Dunia ini. Betapa tidak, di tiap grup telah terjadi peristiwa-peristiwa mengejutkan. Mulai dari tumbangnya Prancis dari Meksiko di grup A, Republik Korea mampu mengalahkan juara Eropa 2004 pada partai perdananya di grup B. Di grup C dan D Inggris dan Jerman belum mampu tampil konsisten padahal keduanya merupakan favorit untuk menjadi juara pada perhelatan kali ini. Sementara Jepang dan Selandia Baru berhasil muncul diantara gempitan raksasa seperti Belanda dan Italia di grup E dan F. Dan 2 kejutan paling pamungkas hadir datang dari DPR Korea dan Swiss. DPR Korea, tim misterius dari Asia Utara ini mampu bermain tanpa dosa saat melawan Brazil di pertandingan pertama. Brazil hanya mampu menang dengan margin 1 gol. Sebuah prestasi? Tentunya. Terlebih bagi negara berperingkat FIFA terendah di Piala Dunia 2010 ini. Kemudian, di grup H, Swiss menggulingkan Spanyol di pertandingan pertama. Berita menggemparkan yang kemudian membuat editor media-media cetak memasang tulisan mencengangkan, karena salah satu favorit juara, Spanyol takluk 1-0. Kejutan, kejutan, dan kejutan.

Ya, Piala Dunia memang identik dengan kejutan. Ibaratnya, kejutan adalah bumbu yang membuat Piala Dunia semakin menarik untuk ditonton, dan kita akan selalu 'ketagihan' untuk menunggu-nunggu kejutan apa lagi yang akan terjadi di Piala Dunia kali ini.

Kamerun dan Senegal pernah membuat sejarah dengan menjungkalkan Argentina dan Prancis yang notabene juara bertahan pada edisi 1990 dan 2002. Dunia seakan terbelalak. Tercengang. Afrika yang biasanya identik dengan busung lapar dan praktek perbudakan kini mulai dianggap salah satu kekuatan dalam peta sepakbola. Ghana, Nigeria, Afrika Selatan, Kamerun menjadi representatif dari benua hitam. Tapi sayang Kamerun harus menjadi tim pertama yang resmi tersingkir dari Piala Dunia 2010 ini. Mereka gagal bersaing dengan Belanda, Denmark, dan Jepang. Mungkin saja 4 tahun lagi kita akan menyaksikan tim nasional Ethiopia di layar kaca, berbaris menyanyikan lagu kebangsaan mereka dengan dada tegap dan wajah-wajah emosional sebelum bertanding. Ya, Ethiopia akan menjadi salah satu negara peserta Piala Dunia 2014 di Brazil, siapa yang tahu?

Adalah sebuah hal yang lazim jika semua tim ingin berprestasi dalam keikutsertaannya di Piala Dunia. Tidak ada cara lain untuk membayar perjuangan mereka selama kualifikasi selain berjuang mati-matian di setiap pertandingan. Kekuatan sepakbola makin terasa 'adil'. Brazil, Argentina, Spanyol, Jerman, tidaklah absolut. Karena tidak ada tim yang superior. Di pertandingan sebelumnya bisa saja tim tersebut bermain cemerlang, namun tidak ada yang menjamin mereka mampu mengulangi permainan cemerlang mereka di pertandingan berikutnya.

Piala Dunia adalah perjuangan. Martabat, harga diri bangsa dipertaruhkan. Di dada 11 pemain yang bertarung di lapangan melekat erat lambang supremasi sepakbola negara mereka. Ada suatu nilai yang tidak bisa dilecehkan, yaitu kebanggaan menggunakan lambang tersebut dan memperjuangkannya adalah perjuangan yang lebih berat lagi. Tidak ada negara yang mau mengalah. Tidak ada tim yang ingin pulang lebih awal.

Jumat, 04 Juni 2010

Inggris juara dunia, bisakah?


Adalah nama-nama seperti Bobby Moore, Geoff Hurst, dan Charlton bersaudara (Bobby dan Jack) yang berhasil memenangkan hati jutaan rakyat Inggris dengan menyabet trofi Jules Rimet (trofi lama Piala Dunia) setelah mengalahkan Jerman Barat dengan skor 4-2 lewat perpanjangan waktu. Dan hattrick Geoff Hurst kala itu merupakan salah satu momen terbaik yang pernah tercipta di stadion Wembley. Hingga kini, jutaan rakyat Inggris masih menanti-nanti momen tersebut akan terulang.

Kita percepat waktu hingga 44 tahun, dimana kita telah berada di tahun 2010 dan Piala Dunia (PD) akan kembali diselenggarakan FIFA dan bertempat di Afrika Selatan. Dan Inggris sekali lagi diunggulkan untuk meraih juara dunia bersama Brazil dan Spanyol. Apa pasalnya? Mereka akan diperkuat Wayne Rooney, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan John Terry yang merupakan pemain-pemain kelas atas dunia yang disejajarkan dengan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Franck Ribery, Kaka, dll. Dan mereka akan dilatih oleh Fabio Capello, pelatih dengan sederet gelar di curriculum vitae nya bersama AC Milan, Real Madrid, Juventus, dan AS Roma. Tentu sudah cukup untuk membuat lawan 'jiper'.

Saya mencoba merumuskan hal-hal yang harus Inggris lakukan untuk dapat menjadi juara dunia. Berikut ulasannya:

1. Wayne Rooney. Torehan 30 gol nya bersama Manchester United sangat diharapkan bisa terulang di PD 2010. Dan salah satu kunci banyaknya gol yang dicetak Rooney musim lalu adalah assist Antonio Valencia. Hampir dari setengah jumlah gol yang dicetak Rooney berasal dari umpan-umpan matang Valencia. Di timnas, tinggal bagaimana Fabio Capello memaksimalkan peran sayap-sayap Inggris untuk menyuplai Rooney dengan bola-bola yang matang dan siap dikonversi menjadi gol oleh Rooney.

2. Gelandang bertahan. Memiliki Steven Gerrard dan Frank Lampard dalam satu barisan lapangan tengah adalah sebuah anugerah, namun bisa juga menjadi sebuah bencana. Pasalnya keduanya merupakan gelandang-gelandang bertipe attacking midfielder, mereka lebih bernaluri menyerang, dan kurang cocok dimainkan sebagai gelandang bertahan. Kurang fitnya kondisi Gareth Barry membuat Don Fabio harus memutar otak untuk mendapatkan formula yang tepat menempatkan gelandang bertahan yang cocok dengan skema yang ia terapkan. Ada nama-nama seperti Michael Carrick, Tom Huddlestone, dan James Milner yang biasa berperan sebagai gelandang tengah di klubnya masing-masing.

Michael Carrick, gelandang bertahan MU ini memiliki visi permainan yang cemerlang, ia sering menemukan celah-celah tidak terduga bagi pemain lain. Namun kekurangannya adalah kecepatan, determinasi, dan sering melakukan blunder, sehingga Don Fabio pun akan berpikir ulang untuk memainkannya dalam pertandingan-pertandingan krusial.

Tom Huddlestone, memiliki tubuh tegap, dan fisik mumpuni sebagai gelandang bertahan. Passing-passingnya cukup akurat, namun minim pengalaman. Apa jadinya jika ia harus menghadapi gelandang-gelandang macam Kaka, Xavi, Bastian Schweinsteiger dll yang memiliki skill kelas atas dan berteknik tinggi tersebut?

James Milner, fisiknya kuat, petarung ulung. Hanya saja ia baru berperan sebagai gelandang tengah di paruh kedua musim lalu, yang bukan merupakan posisi aslinya. Ia diprediksi akan kesulitan memainkan peran gelandang bertahan yang diharapkan Fabio Capello karena ia belum pernah memainkan peran tersebut di bawah asuhan Don Fabio. Tapi, siapa yang tahu?

3. Adu penalti. Momok terbesar Inggris, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Inggris seringkali gagal karena harus memainkan pertandingan hingga adu penalti. Diantaranya PD 1990, PD 1998, dan PD 2006. Juga ajang lain seperti Euro 1996, dan Euro 2004.

4. Krisis kepemimpinan.
Sejak John Terry terjerat skandal, praktis rakyat Inggris kehilangan simpatinya terhadap kapten Chelsea tersebut. Pencopotan ban kapten pun tidak terelakkan. Dan naasnya, pemain yang didapuk sebagai kapten baru, Rio Ferdinand malah mengalami cedera di sesi latihan, dan terancam gagal meng-kapten-i Inggris di PD 2010. Sepeninggalnya, ban kapten diisukan akan disematkan ke Steven Gerrard, Wayne Rooney dan Frank Lampard. Namun berita ini menjadi kendala karena Inggris seakan kebingungan mencari sosok pemimpin di lapangan yang tepat.

5. Kiper.. Adakah dari nama-nama ini yang anda anggap sebagai kiper kelas dunia? : David James, Joe Hart, Robert Green. Ya, kenyataannya Don Fabio hanya memiliki 3 kiper 'lokal' ini untuk bisa membela Inggris di PD 2010.

6. Lawan besar. Saya tidak menggolongkan grup Inggris sebagai grup yang mudah, karena buktinya Slovenia, AS, dan Aljazair adalah tim-tim yang memiliki kolektivitas tinggi dan kerjasama tim yang apik. Namun, biasanya selepas fase grup dan berhadapan dengan lawan yang lebih besar dibanding fase grup, Inggris seakan kaget. Mereka 'dipaksa' memainkan sepakbola terbaik mereka. Lawan-lawan seperti Brazil, Argentina, Jerman, Spanyol adalah tim yang siap melakukannya untuk Inggris, tinggal bagaimana kesiapan Inggris menghadapi mereka.

7. Pemain cadangan.. Siapkah Matthew Upson, Tom Huddlestone, Shaun Wright-Phillips, Jermain Defoe, beserta pemain cadangan lain untuk membuktikan bahwa mereka layak memperkuat Inggris di kesempatan besar seperti PD?

Mereka memang layak menjadi juara, tapi bisakah?

Minggu, 30 Mei 2010

Piala Dunia = Lebaran


Setiap agama tentu memiliki hari raya / hari besarnya masing-masing. Tiap hari raya pasti dirayakan secara meriah oleh penganutnya. Mereka bakal berbaur dengan siapapun, bahkan yang bukan dengan keluarganya sekalipun, karena larut dalam euforia hari raya.

Piala Dunia (PD). Ajang sepakbola internasional paling ditunggu seantero dunia ini saya anggap adalah sebuah 'lebaran'. Lebaran / hari raya adalah hari yang begitu suci dan ditunggu. Kita tentu tau lagu lebaran (Idul Fitri) yang berlirik:

Baju baru...alhamdulillah
Tuk dipakai...di hari raya
Tak punya pun...tak apa-apa
Masih ada baju yang lama


Lirik lagu tersebut tentu menggambarkan betapa baju baru adalah suatu hal begitu sakral pada setiap lebaran. Entah mengapa tradisi tersebut sudah berlangsung turun temurun, khususnya bagi kalangan menengah ke atas. Jika di PD, semua tim peserta telah disediakan kostum baru oleh sponsor apparel mereka. Tujuannya selain bisnis, tentu secara falsafah akan membawa spirit tersendiri bagi tim yang menggunakannya. Meksiko pada PD '98 di Prancis bahkan menggunakan motif suku Aztec demi mendapatkan spirit para leluhurnya. Kostum baru juga pasti akan membawa semangat baru bagi pemain yang bertarung di lapangan. Kemudian, lebaran tidak hanya identik dengan baju baru. Yang paling sering kita lihat/alami dari lebaran tiap tahun adalah perayaannya yang begitu meriah. PD selalu disambut meriah dimanapun, bahkan hingga negara-negara yang tidak menyelenggarakan PD pun ikut memeriahkannya. Dari mulai acara nonton bareng hingga penjualan merchandise yang berbau PD.

Saya masih ingat betul pada saat PD 2006 di Jerman lalu, saya masih aktif menggunakan akun Friendster saya, yang (sejujurnya) teman-teman saya didominasi oleh kaum hawa :D . Di kolom 'who I want to meet' mereka diisi dengan pemain-pemain yang notabene belum terkenal pada saat itu, hanya bermodalkan tampang yang bisa meluluhkan iman mereka. Sebut saja Andrea Barzagli, Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Tranquillo Barnetta. Mereka disebut dalam kolom tersebut. Dan saya langsung berpendapat, kalo bukan karena PD, mereka ga bakal tau tuh pemain-pemain bola.

Tanpa PD, mana mungkin Brazil akan dipertemukan dengan Korea Utara. Mungkin bisa di pertandingan friendly, tapi gengsinya tentu jauh berbeda dibandingkan di PD. Mana mungkin Selandia Baru bertemu Italia, atau Belanda bertanding dengan Kamerun, Jerman beradu fisik dan otot dengan Ghana, kalau bukan dipertemukan oleh PD. Begitu juga lebaran, banyak dari kita yang sangat jarang bertemu sanak saudara yang kebanyakan berada di kampung halaman. Tapi karena lebaran, akhirnya kita dapat bertemu kembali setelah sekian lama, dan dapat saling berbagi kebahagiaan.

Nikmatnya sebuah silaturrahmi dalam skala yang begitu besar.