Tampilkan postingan dengan label Pic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pic. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2011

Jika Saya Sergio Batista


Kita sudah menyaksikan bagaimana tim Tango Argentina belum mampu memenuhi ekspektasi ribuan pecinta sepakbola di tanah airnya dan penggemar timnas Argentina yang menyaksikan Piala Amerika 2011. Nada sumbang berdatangan, bahkan cibiran bagi kesebelasan yang diasuh Sergio Batista ini. Banyak yang menyayangkan bagaimana Lionel Messi cs tidak bermain dengan kemampuan yang biasa mereka keluarkan saat berkostum klubnya masing - masing.

Saya tidak sedang bermimpi, namun coba mengibaratkan diri saya sebagai Sergio Batista, bekas gelandang Argentina di Piala Dunia 1986 yang kini mengarsiteki negaranya tersebut. Saya mengambil point of view seperti sedang bermain game Football Manager (FM), berikut yang akan saya lakukan jika saya Sergio Batista.

Mengubah susunan formasi sebagai berikut:
Kiper: Sergio Romero. Pos ini akan tetap saya percayakan kepada kiper tim AZ Alkmaar ini, mengingat permainannya yang gemilang kala menahan gempuran Radamel Falcao Garcia dan Kolombia nya di pertandingan kedua grup A.

Bek kiri: Javier Zanetti. Il Capitano Internazionale yang telah bermain bola untuk negaranya sejak tahun 1994 ini memiliki kapabilitas menjamah kedua sisi lapangan pertandingan. Peran sebagai bek kiri kini nyaris menjadi posisi utamanya di klub mengingat Internazionale memiliki bek kanan handal asal Brazil, Maicon.

Bek kanan: Pablo Zabaleta. Sejak usia muda bek Manchester City ini telah fasih bermain sebagai bek kanan. Pengalamannya bermain di La Liga dan Liga Premier Inggris seharusnya mampu memperbaiki kinerja lini full-back Albiceleste.

Untuk posisi bek tengah, saya menganggap ini adalah posisi yang sangat rawan bagi tim Argentina, mengapa? Telah 2 pertandingan kita saksikan pelatih Sergio Batista memainkan duet Nicolas Burdisso dan Gabriel Milito. Cukup aneh bagi saya, karena duet ini sudah sejak lama tidak bermain secara bersamaan atau dapat dikatakan duet bek tengah ini bukanlah duet reguler tim Argentina.

Gabriel Milito. Bek tengah Barcelona yang belakangan menjadi penghangat bangku cadangan El Barca lantaran cedera berkepanjangan yang sempat menimpanya dan semakin kompaknya duet Carles Puyol - Gerard Pique ini tiba - tiba menyita perhatian publik dengan menjadi bek inti di tim nasionalnya. Saya menyayangkan keputusan pelatih Sergio Batista menepikan Martin Demichelis dari tim nasional. Secara usia, Demichelis dan Milito memang tidak terlalu terpaut jauh. Demichelis bahkan menjadi starter di setiap pertandingan yang Argentina mainkan di Piala Dunia 2010 dan ia juga bermain bagi Bayern Munchen di final Liga Champions 2010. Menurut saya agak ironis Demichelis tidak diikutsertakan di turnamen Piala Amerika kali ini, karena ia konsisten bermain di level tertinggi kompetisi baik yang berskala Eropa maupun dunia. Artinya dengan lebih intensifnya Demichelis tampil di pertandingan kompetitif, seharusnya kansnya lebih besar untuk membela timnas Argentina. Namun kenyataan berkata lain, Martin Demichelis tidak ikut serta di Piala Amerika kali ini.

Saya memiliki opsi seperti ini, memainkan Javier Mascherano sebagai bek tengah seperti yang sering dilakukan Pep Guardiola di Barcelona pada paruh kedua La Liga dan bahkan final Liga Champions musim lalu. Hasilnya tidak terlalu buruk. Javier bermain apik saat mengisi posisi bek tengah yang sering ditinggal Carles Puyol yang banyak berkutat dengan cederanya di paruh kedua musim lalu. Messi sendiri pernah menyatakan tipe pemain macam Javier Mascherano adalah tipe pemain yang akan selalu dibutuhkan untuk setiap tim, jadi tidak ada salahnya menempatkan kapten Argentina di Piala Dunia 2010 itu di posisi bek tengah berdampingan dengan Nicolas Burdisso.

Lalu bagaimana susunan lini tengahnya?
Saya memiliki 2 opsi untuk lini tengah. Yang pertama, menempatkan posisi 2-1 yakni memainkan Ever Banega dan Esteban Cambiasso sebagai holding midfielder serta sedikit "menurunkan" Messi sebagai trequartista di belakang penyerang. Opsi ini berlaku jika memang Argentina hendak melakukan strategi "gung ho" (yang sering main FM pasti tahu) alias menyerang dengan tempo tinggi. Namun jika memang harus memainkan opsi ini, akan sedikit banyak menggembosi lini tengah dan lini pertahanan tim, karena Messi akan dipaksakan lebih menyerang dibanding mengatur serangan dari lini tengah. Lalu opsi kedua yakni dengan memainkan Javier Pastore. Salah satu properti terpanas di bursa transfer musim panas ini menurut saya terlalu berharga untuk sekedar menjadi cadangan di Piala Amerika. Terlebih pelatih Sergio Batista seharusnya menyadari ajang sebesar ini mestinya menjadi "arena" bagi Pastore untuk unjuk kebolehan sebagai playmaker seperti yang dengan mulus ia lakukan di Palermo musim lalu.

Saya sadar saya secara pribadi (bukan sebagai jika saya Sergio Batista) akan dipusingkan dengan deretan lini depan yang berisi: pemain terbaik dunia 2 kali berturut - turut, topskorer Liga Champions selama 3 musim terakhir, Lionel Messi, lalu striker dan winger Real Madrid, Gonzalo Higuain dan Angel di Maria, kemudian striker yang mencetak dwigol di final Liga Champions musim 2010, Diego Milito, ada juga topskorer Liga Inggris bersama Dimitar Berbatov musim lalu, Carlos Tevez, lalu menantu Diego Maradona yang juga punggawa Atletico Madrid, Sergio 'Kun' Aguero, dan yang terakhir adalah striker yang berhasil membawa klubnya Napoli masuk ke Liga Champions musim depan, Ezequiel Lavezzi. Pilihan harus tetap dilakukan. Saya juga memiliki beberapa opsi untuk pos ini. Opsi pertama, memainkan trio Lionel Messi - Gonzalo Higuain - Angel Di Maria. Trio ini mampu memainkan posisi berbeda di lini depan sama baiknya, alias mereka dapat bertukar posisi jika memang dibutuhkan saat pertandingan mengalami deadlock. Higuain memiliki kapabilitas sebagai winger kanan, Messi dapat bermain sama baiknya di sisi manapun di lini depan, Di Maria biasa ditempatkan di sisi kanan maupun kiri oleh Jose Mourinho di klubnya. Jadi dengan trio ini dapat dipastikan lini belakang manapun akan mendapat teror tiada henti sepanjang pertandingan. Opsi kedua, memainkan trio Sergio Aguero - Diego Milito - Carlos Tevez, dengan asumsi Lionel Messi dimainkan sebagai trequartista. Banyak yang mengkritik pelatih Batista karena tidak memercayakan lini depan kepada Aguero yang mencetak gol penyeimbang di laga pertama kontra Bolivia. Tidak banyak tipe striker murni yang dimiliki Argentina sepeninggal Gabriel Batistuta & Hernan Crespo, dan menurut saya Diego Milito bisa menjadi opsi stiker murni di lini depan Argentina. Tanpa mengecilkan peran Ezequiel Lavezzi di skuad Argentina, namun jika melihat performanya yang kurang memuaskan di 2 pertandingan awal, rasanya Sergio Batista memiliki alasan untuk memarkir striker asal Napoli tersebut demi kepentingan taktik dan strategi tim.

Jika mengingat perkataan Adolf Hitler bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang, maka tidak ada cara lain selain memanfaatkan sumber daya yang dimiliki Argentina di lini depan, dengan penekanan tiga striker. Tinggal bagaimana Sergio Batista menggodok strategi yang tepat untuk diterapkan di timnya agar mampu memberikan hasil maksimal di perhelatan kali ini. Ini opiniku, bagaimana opinimu? :D

Selasa, 10 Agustus 2010

8 Pemain Berbahasa Spanyol di Setan Merah


Manchester United merekrut Javier 'Chicharito' Hernandez dari Chivas Guadalajara dengan bandrol 6 juta poundsterling. Jumlah yang dianggap Sir Alex Ferguson cukup murah. Sir Alex menganggap harga Chicharito dipastikan akan melambung setelah Piala Dunia 2010 mengingat penampilannya yang apik, terlebih ia juga menciptakan 2 gol saat Meksiko mengalahkan Prancis 2-0 di fase grup dan ketika Meksiko dihajar Argentina 4-1 di perdelapan final.

Javier 'Chicharito' Hernandez adalah pemain berbahasa Spanyol ke-8 yang pernah direkrut Sir Alex di era Premiership. Sebelumnya telah ada 7 pemain yang telah membela panji Setan Merah. Berikut ulasannya:

1. Diego Forlan. 2 golnya ke gawang ke Liverpool pada musim 2002/2003 adalah prestasinya paling legendaris. Ia pernah dijuluki Diego For'Loan' saking mandulnya. Hingga ketika ia mencetak gol pertamanya bagi United, komentator pertandingan kala itu berteriak: 'Hallelujah!'. Setelah meninggalkan United, ia berlabuh di Villareal sebelum hijrah ke Atletico Madrid. Prestasi tertingginya adalah ketika ia menyabet gelar Golden Ball di Piala Dunia 2010 dengan torehan 5 golnya dan berhasil membawa Uruguay duduk di peringkat 4.


2. Juan Sebastian Veron. Playmaker plontos yang memiliki visi permainan kelas atas.
Diboyong dari Lazio dengan bandrol 28 juta poundsterling. Ia harus bersaing dengan Nicky Butt, Roy Keane, Paul Scholes, dan bahkan Phil Neville kala itu. Sempat mempersembahkan trofi Liga Inggris pada musim 2002/2003. Ketika Roman Abramovich datang ke Inggris dan mengakuisisi Chelsea, Seba -panggilan akrab Veron- langsung masuk daftar belanja the Roman Emperor. Ia dilego ke Chelsea. Lalu malang melintang ke Inter Milan, hingga pulang kampung dan bermain untuk Estudiantes La Plata. Sempat juga tampil di Piala Dunia 2010 di usianya yang ke-35.


3. Ricardo Lopez. Namanya kurang mentereng. Kalah bersaing dengan Fabien Barthez kala itu. Namun, satu penyelamatan penaltinya saat debut melawan Blackburn tentu diingat sebagai salah satu 'persembahan'nya bagi United. Kini bermain untuk Osasuna.


4. Gabriel Heinze. Bek sangar asal Argentina yang langsung mencetak gol di pertandingan debutnya kala United jumpa Bolton Wanderers di musim 2004/2005. Ia kemudian dilego ke Real Madrid saat Patrice Evra mulai mengkudeta posisinya di bek kiri pertahanan United. Namun, posisinya di Argentina tidak tergantikan. Ia bermain di 4 pertandingan yang dijalani Argentina di Piala Dunia dan mencetak 1 gol ke gawang Nigeria di Piala Dunia 2010. Heinze bermain untuk Marseille di Ligue 1.


5. Carlos Tevez. Sang Apache dicap pengkhianat oleh fans United karena ia menyeberang ke Eastlands. Namun, kombinasinya dengan Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo di musim 2007/2008 sukses memberikan double bagi United, yakni Liga Inggris dan Liga Champions. 'Who's that twat from Argentina?' Begitulah kira-kira publik Mancunian menyebutnya kini.


6. Gerard Pique. Atletis, gaya permainan yang elegan, didukung jenggot tebal yang sudah sangat cukup membuat para wanita rela bangun malam untuk menyaksikannya beraksi saat Piala Dunia 2010 berlangsung. Itulah yang terjadi ketika ia telah bermain bagi Barcelona. Saat masih menjadi reserve di United, Pique hanya menjadi pemain spesialis pinjaman, karena duet Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic kala itu sedang pada puncak permainannya. Ia direkrut kembali oleh klub semasa kecilnya, Barcelona dan bertransformasi menjadi salah satu bek terbaik di dunia saat ini.


7. Luis Antonio Valencia. Sayap kanan klasik. Memiliki dribel dan umpan silang yang mematikan. Ialah kunci sukses mengapa Wayne Rooney begitu produktif musim lalu, dan Rooney pun secara eksplisit menyebutnya sebagai pemain yang turut memiliki andil pada 34 golnya musim lalu. Winger yang berperawakan dingin ini direkrut dari Wigan Athletic seharga 26 juta poundsterling dan diproyeksikan sebagai pengganti Cristiano Ronaldo yang hijrah ke Real Madrid pada musim 2009/2010.

Rabu, 21 Juli 2010

Liverpool Di Bawah Panji Britania

18 trofi Liga Inggris, 5 trofi Liga Champions, 7 trofi Piala FA, 7 trofi Piala Liga, dan masih banyak lagi gelar prestisius yang diraih oleh Liverpool. Kita tentu tahu betapa digdayanya klub asal grup musik The Beatles ini pada medio 1970an dan 1980an. Mereka seakan menjadi raja baik di tanah Britania maupun di Eropa.

Di kala jayanya, Liverpool memiliki pelatih bertangan dingin macam William 'Bill' Shankly dan suksesornya, Bob Paisley. Di bawah kendali kedua pelatih ini Liverpool mampu dengan mudah mendulang trofi demi trofi ke Anfield, markas mereka. Bill Shankly, pelatih kawakan asal Skotlandia, kala itu ditunjuk untuk memperbaiki prestasi Liverpool yang sempat terpuruk pada tahun 1950an. Mereka tenggelam di bawah bayang - bayang rival abadinya, Manchester United, dan tim lain macam Leeds United, Tottenham Hotspur, dan Everton. Di bawah kendali Bill, Liverpool berhasil meraih 3 gelar trofi Liga Inggris, dan 1 trofi Piala FA. Namun, keistimewaan Bill adalah hubungannya dengan suporter Liverpool. Ia berhasil meraih hati para fans dan ia jugalah yang meletakkan pondasi awal kejayaan Liverpool.

Sepeninggal Bill Shankly, yang mundur pada 1974, manajemen Liverpool kala itu menunjuk Bob Paisley sebagai penggantinya. Pelatih berperawakan gempal ini langsung 'tancap gas'. Di musim pertamanya ia langsung merebut gelar juara Liga Inggris dari tangan Derby County yang dilatih Brian Clough, pelatih legendaris Inggris. Dan setelah itu Liverpool berhasil menjuarai kompetisi paling bergengsi di Eropa, yakni Liga Champions sebanyak 3 kali di bawah Bob Paisley (1977, 1978, 1981) dan Piala Eropa(UEFA Cup, atau sekarang lebih dikenal dengan Europa League) pada 1984. Ini adalah prestasi fenomenal bagi klub Inggris mengingat mereka kerap tenggelam di bawah raksasa Eropa macam Ajax Amsterdam, Bayern Munchen, dan Juventus.

Kita kembali ke masa sekarang. Masa dimana Liverpool tidak lagi merajai Inggris. Masa dimana Liverpool belum pernah meraih lagi trofi Liga Inggris sejak 20 tahun silam. Namun, secercah asa tentu boleh dikibarkan jika melihat pergerakan Liverpool di bursa transfer musim panas ini. Pelatih asal Spanyol, Rafael Benitez dipecat, kemudian digantikan oleh Roy Hodgson, pelatih yang sukses mengantar Fulham hingga final Europa League musim lalu. Kemudian Liverpool sukses mendaratkan Joe Cole yang berstatus bebas transfer setelah dilepas Chelsea akhir musim sebelumnya, juga Milan Jovanovic gelandang asal Serbia. Dan rekrutan Britania lainnya macam Jonjo Shelvey, Danny Wilson yang disebut - sebut sebagai The New Alan Hansen.

Sukses Liverpool di era 1970an dan 1980an ditentukan oleh punggawa - punggawa asal Britania Raya macam Kevin Keegan, Ray Clemence, Phil Thompson, Terry McDermott yang berasal dari Inggris Raya, Kenny Dalglish dan Graeme Souness yang berasal dari Skotlandia, dan Ian Rush yang berasal dari Wales.

Akankah Liverpool kembali berjaya dengan konten Britania nya?

Selasa, 13 Juli 2010

10 Hal Yang Bikin Kita Tidak Bakal Melupakan Piala Dunia 2010

Pesta sepakbola paling megah itu telah usai. Kita harus berdoa kepada Tuhan agar diberikan umur setidaknya hingga 4 tahun ke depan untuk kembali menyaksikan ajang terbesar di jagat raya yakni Piala Dunia. Piala Dunia 2010 memang telah berakhir, namun tentu masih banyak hal-hal yang dapat kita kenang dari perhelatan 4 tahun sekali tersebut. Saya mencoba mengumpulkan 10 hal yang membuat kita akan mengenang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

10. Jabulani dan Vuvuzela
Bola resmi Piala Dunia 2010 keluaran Adidas ini awalnya sempat menimbulkan kontroversi lantaran performanya yang kurang memuaskan. Bahkan, banyak yang menganggap Jabulani adalah bola terburuk sepanjang masa. Jabulani sendiri berasal dari bahasa Zulu yang berarti merayakan.

Terompet khas Afrika Selatan yang bunyinya lebih mirip sekumpulan lebah ini sungguh meresahkan penonton pada awal penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Namun, seiring berakhirnya Piala Dunia, kita juga akan merindukan bunyi nyaring yang ditimbulkan Vuvuzela di setiap pertandingan yang kita saksikan.

9. Air Mata Jong Tae-se
Striker timnas DPR Korea ini secara emosional menangis ketika menyanyikan lagu kebangsaannya sebelum pertandingan melawan Brazil. Pure nationalism. Meski akhirnya DPR Korea tersingkir di penyisihan grup, tangisan Jong merupakan highlight dari penyelenggaraan Piala Dunia kali ini.

8. Pulangnya finalis Piala Dunia 2006
Prancis dan Italia bertemu...di bandara. Begitulah jokes yang banyak dilontarkan khalayak setelah melihat kegagalan 2 finalis Piala Dunia edisi sebelumnya ini lolos dari babak penyisihan grup. Jika Prancis tersingkir lantaran dilanda konflik internal, maka sang 'kawan' tersingkir lebih karena kegagalan sang pelatih, Marcelo Lippi memilih pemain yang cocok untuk membela juara dunia 2006 tersebut. Banyak pemain yang justru tidak berkontribusi banyak seperti Simone Pepe, Federico Marchetti, Alberto Gilardino, dan bahkan Andrea Pirlo yang baru tampil pada pertandingan ke-3. Well, setidaknya Riccardo Montolivo baru akan berusia 29 tahun 4 tahun lagi.

7. Swiss 1 Spanyol 0
Kejutan yang pertama kali terjadi di babak penyisihan grup. Kedigdayaan juara Eropa, Spanyol 'digoyang' lewat gol semata wayang Gelson Fernandes. Pasar taruhan pun sedikitnya terkena dampak dari kekalahan Spanyol ini. Tapi kita akhirnya tahu siapa yang tertawa pada akhir turnamen.

6. Panser Muda Membabat Inggris dan Argentina dengan 4 gol
Inggris, si tim pesakitan yang selalu jadi favorit juara dan Argentina, tim yang mengumpulkan 9 poin di babak penyisihan grup. Keduanya luluh lantak seketika saat mereka bertemu Jerman. Dimotori Mesut Ozil, Bastian Schweinsteiger, Sami Khedira, Miroslav Klose dkk, Jerman berhasil melibas kedua tim tersebut keduanya dengan 4 gol bersarang di gawang musuh. Jerman menghancurkan Inggris 4-1 yang-seharusnya 4-2 jika saja wasit Jorge Larrionda asal Uruguay mengesahkan tendangan Frank Lampard yang secara kasat mata telah melewati garis gawang Manuel Neuer. Saya tidak akan membahas lebih panjang apalagi berbicara mengenai berita tentang rencana FIFA mengulang pertandingan tersebut yang jelas-jelas tidak akan terjadi di dunia manapun.

Pemain terbaik dunia tahun 2009, Lionel Andres Messi ternyata tidak mampu membantu negaranya Argentina untuk mengalahkan Jerman. Argentina tidak berkutik menghadapi Jerman yang tampil trengginas, terlebih Bastian Schweinsteiger yang menjadi momok bagi Messi sekaligus bagi Javier Mascherano di lini tengah, karena Schweini-panggilan Schweinsteiger sukses mengunci pergerakan Messi dan juga dengan mudahnya menerobos pertahanan Argentina. Ozil, adalah nama lain yang menjadi buah bibir setelah permainan gemilangnya di fase grup.

5. Ghana
Sang penyelamat muka Afrika. Mereka berhasil mengikuti langkah Kamerun di Piala Dunia 1990 dan Senegal di Piala Dunia 2002 dengan menjejakkan kaki di perempat final. Meski akhirnya takluk dari Uruguay lewat drama adu penalti, tapi rakyat Afrika setidaknya bisa berbangga hati karena salah satu wakilnya mampu berbicara banyak. Dan mereka tentu akan mempunyai musuh baru, yakni Luis Suarez.

4. Diego Forlan, sang penakluk Jabulani
Ronaldo, Messi, Kaka pun seharusnya tercenung melihat apa yang dilakukan Forlan di Piala Dunia kali ini. Karena di luar dugaan Forlan sukses 3 kali menjebol gawang musuh lewat tendangan kerasnya dari luar kotak penalti. Saya rasa ia adalah peraih Golden Ball atas kegemilangannya menaklukkan Jabulani, bukan atas pencapaian 5 golnya.

3. Kiper terbaik Piala Dunia 2010, Luis Suarez

Ghana bisa saja lolos ke semifinal, jika 'kiper kedua' Uruguay, Luis Suarez tidak menepis bola yang sudah di mulut gawang. Ghana kemudian berpeluang mencetak gol lewat tendangan penalti. Namun, Asamoah Gyan yang pada fase grup mencetak 2 gol lewat titik putih, kali ini harus bertemu kesialannya, karena penaltinya mengenai mistar dan gagal memberi kemenangan untuk Ghana yang telah di depan mata. Suarez, yang sebelumnya menangis tersedu karena kebodohannya, langsung bersorak girang melihat Asamoah Gyan gagal memanfaatkan penalti. FIFA seharusnya memberikan Lev Yashin Award kepada Luis Suarez...

2. Gol pamungkas si mungil, Andres Iniesta
Rakyat Spanyol dibuat ketar-ketir oleh permainan keras Belanda, hingga pada menit 116 satu sepakan half-volley Iniesta melesak keras ke kanan gawang Maarten Stekelenburg dan sepakan tersebut bisa jadi adalah sepakan paling bersejarah dalam persepakbolaan Spanyol, karena ia berhasil membawa Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya lewat golnya tersebut. Pahlawan.

1. Paul The Octopus

Tidak perlu penjelasan lebih lanjut :P

Kamis, 20 Mei 2010

Welcome back, Dorian!



Jika Liga Inggris mempunyai Tottenham Hotspur sebagai kontestan kejutan Liga Champions untuk musim depan, Liga Italia juga mempunyai nama kejutan untuk dikedepankan, siapa lagi kalau bukan Sampdoria.

Tim besutan Luigi Del Neri ini berhasil finis di posisi 4, spot terakhir untuk peserta Liga Champions. Mereka berhasil menyingkirkan Palermo, Juventus, dan Napoli dalam perburuan tempat di Liga Champions musim depan.

Il Samp, begitu mereka dijuluki, pernah menjadi raksasa di Italia pada musim 1990/1991 saat mereka menjadi juara Liga Italia. Saat itu mereka bermaterikan pemain seperti Gianluca Pagliuca, kiper legendaris Italia, Srecko Katanec, yang pernah menjadi pelatih Slovenia di Euro 2000, Roberto Mancini, pelatih Manchester City, Gianluca Vialli, dan Sinisa Mihajlovic. Talenta-talenta tersebut berhasil dimaksimalkan Vujadin Boskov, allenatore asal Yugoslavia yang juga berhasil memoles Real Madrid, AS Roma, dan timnas Yugoslavia sendiri. Dan salah satu prestasi yang tidak bakal terlupakan adalah saat mereka berhasil menembus final Liga Champions musim 1990/1991. Final kala itu mempertemukan mereka dengan raksasa Spanyol, Barcelona yang saat itu diasuh Johan Cruyff yang menampilkan total voetbal ala Belanda. Sampdoria yang tampil sporadis dan spartan berhasil membuat Barca kesulitan mengembangkan permainan. Lini tengah mereka dikontrol oleh gelandang asal Brazil, Cerezo. Lini depan mereka begitu tajam dengan duet Mancini - Vialli. Sedangkan, lini belakang mereka dihuni Pietro Vierchowood dan Srecko Katanec. Namun saat pertandingan memasuki extra time, mereka tumbang oleh 'tendangan geledek' Ronald Koeman. Mereka pun gagal mengawinkan gelar liga dengan Liga Champions. Meski kalah, mereka tetap berbangga hati, karena pada saat itu mereka berhasil 'menggantikan' the Dream Team, AC Milan di final Liga Champions, karena AC Milan kala itu merupakan tim paling menakutkan di seantero Eropa.

Musim depan, mereka akan kembali ke pentas Liga Champions. Kali ini yang akan menjadi punggawa-punggawanya adalah Antonio Cassano, Gianpaolo Pazzini, Angelo Palombo, dan Luca Castelazzi. Namun, perjalanan mereka tidak akan ditemani Luigi Del Neri, sang allenatore yang berhasil membawa mereka sampai sejauh ini. Luigi Del Neri akan menangani Juventus, tim yang notabene mereka gagalkan langkahnya untuk menembus Liga Champions musim depan.




Selasa, 04 Mei 2010

Selasa, 20 April 2010

O Especial



He's the man. Inter would've been nothing without him.