Tampilkan postingan dengan label In Depth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Depth. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Mei 2013

Ferguson, Move On, dan Hal – Hal yang Harus Di Move On Kan

Ketika menyaksikan pertandingan Manchester United vs Swansea tadi malam, saya tidak lagi berekspektasi akan hasil akhir yang berpihak pada tim tuan rumah. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh jutaan penggemar Manchester United (MU) yang tersebar di seluruh dunia. Kita semua sudah tahu bahwa hari ini adalah hari yang sangat emosional, karena Sir Alex Ferguson (SAF), Paul Scholes dan Albert Morgan (juru pakaian tim) memutuskan untuk mengambil pesangon lebih cepat dari yang dijadwalkan. Haru biru bercampur bangga terasa menyelimuti awan di atas stadion Old Trafford, Manchester. Sudah terlalu banyak artikel tentang pensiunnya SAF. Laman berita Inggris, Guardian mengumumkan mereka mendapati berita pensiunnya SAF membuat Guardian mengalami traffic tertinggi setelah kematian Paus Paulus. Ada yang menjabarkan dari sisi emosional, ada juga yang menjelaskan bagaimana perjalanan SAF menjadi juru taktik yang adaptif ketimbang menemukan racikan baru bagi MU selama hampir 26 tahun. Ada juga yang justru secara lantang mengemukakan ketidaksukaannya terhadap SAF, karena menganggap SAF lebih banyak mempromosikan ‘Fergie Time’, mind games, dsb. Tapi biarkan, haters will always be haters. Awalnya saya termasuk orang yang malah senang ketika SAF mengumumkan dirinya akan pensiun di akhir musim, karena saya memandang kebapukan permainan MU selama 2 musim terakhir merupakan tanggung jawab SAF sebagai pelatih, dan di usianya yang sudah menginjak 71 tahun rasanya waktu pensiun tidak ubahnya bom waktu yang siap meledak kapan saja, dan hanya Tuhan dan SAF yang tahu kapan ledakan tersebut akan terjadi. Tetapi, semalam ketika announcer stadion Old Trafford memberikan mic kepada SAF setelah berpelukan dengan satu persatu pemainnya, saya merasakan ada afeksi begitu dalam kepada kakek tua dari Govan ini. Saya belum pernah sekalipun bertemu dengannya secara langsung, dia bukan Nabi saya, dia juga tidak memiliki ikatan kekeluargaan dengan keluarga saya, tapi entah mengapa begitu ia melakukan salam perpisahan dengan publik Old Trafford dan seluruh pihak yang telah menyaksikannya berdiri di pinggir lapangan selama ia menjadi pelatih, mata saya mulai berkaca – kaca menghadap layar kaca. Perasaan senang ketika ia pensiun, justru berbalik menjadi perasaan sedih, sama sedihnya seperti anak yang tidak ingin ditinggal orang tuanya yang hendak pergi dinas keluar kota. Kemudian saya teringat idiom yang sering diucapkan ketika seseorang patah hati: “move on”. Ya, move on. Idiom ini sebenarnya bersifat universal, karena move on bukan hanya milik mereka yang patah hati, tetapi juga buat orang – orang yang terlalu lama terjebak dalam indahnya masa lalu. Sama halnya yang harus dilakukan MU, move on. Everton harus move on karena ditinggal David Moyes yang musim depan akan menggantikan SAF. Manchester City, Wigan, atau bahkan Chelsea juga harus bersiap – siap move on, karena pelatih mereka masa depannya sangat tidak menentu. Mungkin pemain atau suporter mereka tidak ingin move on, tetapi ketika direktur atau petinggi klub menginginkan hal yang demikian, tidak dapat lagi ditolak. Manchester City misalnya. Kekalahan mereka dari Wigan Athletic di final Piala FA, Sabtu kemarin semakin memperjelas sinyal kedatangan pelatih baru, seperti yang santer diberitakan, Manuel Pellegrini bersiap – siap menggantikannya. Tetapi tidak semua menyukai isu tersebut. Suporter Manchester City sejak awal peluit pertandingan kemarin dibunyikan, berkali – kali men-chants dukungan mereka terhadap Mancini. Mereka tidak ingin move on dari Mancini. Begitu juga yang terjadi pada Wigan Athletic. Usai mengalami keajaiban dengan menumbangkan Manchester City, suporter dan pemain mereka harap – harap cemas kepada Dave Whelan, presiden klub asal Lancashire itu, karena bukan rahasia pelatih mereka Roberto Martinez masuk radar untuk diproyeksikan menjadi pengganti David Moyes di Everton. Roberto Martinez begitu memesona hingga Everton sangat kepincut mendatangkannya. Wigan tidak ingin move on dari hari indah mereka saat memenangi Piala FA, Wigan juga tidak ingin move on dari Roberto Martinez. Sedangkan yang terjadi pada Chelsea juga tidak jauh berbeda. Suporter Chelsea begitu sayangnya kepada Jose Mourinho, sehingga nyaris setiap pertandingan mereka selalu mengelu-elukan namanya. Padahal ia telah meninggalkan Stamford Bridge hampir 6 tahun lalu. Siapapun pelatihnya, baik mereka suka (apalagi mereka tidak suka, seperti Rafa Benitez) harus rela memiliki perasaan seperti dimadu, karena Chelsea sulit move on dari pelatih banyak omong tapi kharismatik dari Portugal tersebut. Sulit move on. Move on bukanlah perkara mudah bagi orang – orang yang masa lalunya banyak diisi dengan kegemilangan dan kejayaan. Apalagi jika hubungan romantisme antara 2 pihak yang bermesraan telah terjadi selama bertahun – tahun, layaknya yang dialami MU dan Sir Alex Ferguson. Move on tidak pernah memberikan pilihan yang baik. Either kita terus mengingat – ingat masa lalu yang notabene sulit untuk terjadi lagi, atau menghadapi kenyataan bahwa kita tidak sedang menikmati masa – masa indah itu. Pilihannya adalah maju tetapi terasa sakit, atau tidak mengalami sakit tetapi tidak juga maju. Jadi harus bagaimana? Ya mau tidak mau harus move on. Layaknya pekerja dan pelajar yang harus move on dari hari libur ke hari kerja, mereka mau tidak mau harus menghadapi kenyataan mereka tidak lagi bermalas – malasan, they need to get back to business. MU harus move on, Everton harus move on, Manchester City, Wigan Athletic, Chelsea, harus bersiap – siap untuk move on. Sebenarnya move on adalah suatu hal yang biasa saja, no big deal (atau kita seharusnya menganggap demikian), karena move on hanya membutuhkan waktu dan proses yang sedikit lama. Indonesia misalnya, negara ini pernah dipaksa move on dari rezim Orde Baru ke era reformasi. Tetapi move on jenis seperti ini justru move on yang diharapkan, sama seperti hubungan yang sudah tidak kondusif, salah satu dari pasangan pasti akan merasa tidak nyaman dan mengajukan permintaan untuk berpisah. Hingga sekarang bangsa yang katanya besar ini bahkan masih sering terjebak dalam masa lalu, bangsa ini masih membutuhkan proses perubahan, bangsa ini harus tetap dan selalu move on. SAF adalah diktator. Bagaimana tidak, ia bisa menentukan berapa menit lagi pertandingan harus disudahi, ia sendiri juga yang menentukan kapan ia pensiun, bukan direktur ataupun ketentuan tertulis lainnya. Bertahun – tahun ia memerintah tidak hanya pemain, tetapi juga petinggi klub, masa jabatannya hanya berbeda 6 tahun dari lamanya Soeharto menduduki kursi presiden Indonesia. Fergie Association, begitulah asosiasi sepakbola Inggris sering disebut, karena keputusannya yang acapkali menguntungkan SAF, mereka dianggap menjadi kaki tangan SAF. Tetapi kediktatorannya justru membuat para fans seperti sedang terlelap dalam selimut tebal, dan tidak ingin dibangunkan dari lelapnya. Dibawahnya, MU meraih segala kejayaan. Kesengsaraan mereka hanya tidak lolos dari fase grup Liga Champions, atau ketika tidak juara lantaran selisih gol, selebihnya Anda tahu sendiri. Dan di penghujung kariernya, ia meletakkan jabatannya bukan lantaran kesehatannya tidak lagi memungkinkan, atau MU tidak lagi berprestasi, ia hanya ingin menemani istrinya, Cathy, karena kematian kakak sang istri membuat Cathy begitu kesepian. SAF tidak ingin berpisah dengan MU, tapi ia harus move on, begitu juga sebaliknya.

Selasa, 28 Februari 2012

Stuart Pearce Redemption


Piala Dunia 1990 yang dihelat di Italia barangkali menjadi salah satu gelaran yang paling ingin diingat sekaligus dilupakan jutaan rakyat negeri Ratu Elizabeth tersebut. Bagimana tidak, setelah 24 tahun lamanya tim nasional sepakbola Inggris akhirnya kembali mencapai babak 4 besar Piala Dunia alias semifinal. Melihat perjuangan Gary Lineker dkk meraih pencapaian tersebut serasa seperti menghilangkan dahaga yang mengendap sekian lama di tenggorokan pecinta sepakbola di Inggris.

Namun euforia itu harus kembali sirna saat Stuart Pearce dan Chris Waddle gagal menendang bola melewati kiper Jerman Barat kala itu, Bodo Illgner saat drama adu penalti harus dijalani Inggris dan rival lamanya, Jerman Barat di semifinal Piala Dunia 1990. Sebuah kekalahan yang meninggalkan raungan tangis dari pemain belia penuh bakat, Paul Gascoigne yang berhasil mengejutkan publik Italia dengan permainannya yang memukau sepanjang turnamen. Sebuah akhir dari perjalanan karier kiper legendaris Inggris, Peter Shilton yang memainkan turnamen terakhirnya di Piala Dunia 1990.

Publik Inggris kemudian mulai mengingat 2 nama dari peristiwa tersebut, Chris Waddle dan Stuart Pearce. Chris Waddle menjadi tersohor karena selain rambut mullet nya, ia juga gagal mengeksekusi penalti dalam drama adu penalti melawan Jerman Barat. Bersama dengan Chris Waddle, mencuat juga satu nama yang belakangan menjadi pembicaraan di dunia sepakbola internasional, yakni Stuart Pearce.

Bekas pembesut Manchester City itu ditunjuk FA sebagai pelatih sementara tim nasional Inggris untuk menghadapi laga persahabatan menghadapi Belanda (30/02). Selama bertahun - tahun ia dengan "betah"nya menjadi pelatih Inggris U-21. Tak heran, nama - nama yang matang saat tampil bersama tim junior seperti Micah Richards, Frazier Campbell, dan Daniel Sturridge diikutsertakan ke dalam gembong arahan pelatih yang terkenal dengan julukan "Psycho" ini. Ditinggalkannya nama lawas macam John Terry dan Rio Ferdinand menyiratkan bahwa Pearce sepenuhnya percaya pada kekuatan pemain mudanya. Bahkan, James Milner, yang notabene selama ini tidak pernah menjabat sebagai kapten tim senior, mendapati dirinya terkejut saat Pearce menjadikannya skipper tim Tiga Singa.

Sebenarnya pemilihan youngster yang dilakukan Stuart Pearce bukanlah hal yang baru. Selama menjadi pelatih Manchester City, ia pernah mengorbitkan nama - nama macam Micah Richards, Nedum Onouha, bahkan Joey Barton ke tim inti The Citizens. Dipadukan dengan pemain senior seperti David James, Claudio Reyna, dan Nicolas Anelka, Manchester City sempat merasakan nyamannya menjadi penghuni papan tengah di bawah asuhan Pearce setelah sebelumnya banyak berkutat dengan zona relegasi pada awal kemunculannya di Liga Premier Inggris. Jika sekarang metode yang hampir sama diterapkan di tim nasional, tentu publik berharap sentuhan midas Pearce berlanjut ke jenjang yang lebih krusial lagi, meski banyak juga yang meragukan kredibilitasnya sebagai pelatih tim nasional sekelas Inggris, tim yang seringkali inkonsisten, terlebih baru saja ditinggal pelatih yang berhasil memberikan aura positif ke ruang ganti tim seperti Fabio Capello. Belum lagi pemilihan pemain muda seperti Frazier Campbell, yang hampir menghabiskan 2 musim di meja operasi, tentu semakin mengernyitkan dahi pihak - pihak yang selama ini puas dengan performa Inggris dibawah Capello.

Malam nanti, finalis Piala Dunia 2010, Belanda akan berkunjung ke Inggris untuk memberikan tes pertama bagi Pearce dan armada mudanya. Tentu kali ini Pearce ingin memberikan kesan baik bagi publik Inggris setelah tragedi Piala Dunia 1990 sempat mengguncangkan nama Stuart Pearce.

Senin, 21 November 2011

Rumput Tetangga Memang Lebih Hijau


Judul tulisan diatas merupakan sebuah kiasan yang sudah turun temurun dilafalkan masyarakat dunia. Terkadang kita merasa apa yang kita miliki saat ini tidak lebih baik dari apa yang dimiliki oleh tetangga kita. Begitulah yang terjadi di sepakbola Indonesia. Lagi - lagi ratusan juta pasang mata rakyat Indonesia harus menghela nafas dalam - dalam ketika sepakan penalti kapten timnas Malaysia, Bakhtiar bin Baddrol meluncur pelan dari tepisan Kurnia Meiga. Malaysia sekali lagi mempermalukan kita di depan ribuan pendukung 'Garuda Muda' di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Malaysia juga sekali lagi 'memeletkan' lidahnya di tengah kepedihan kita, karena mereka tanpa kita sadari telah menguasai persepakbolaan Asia Tenggara dengan menjuarai kejuaraan sepakbola di tingkatan usia yang berbeda, yakni SEA Games (usia 23 tahun) dan Piala AFF (usia senior). Hasil tersebut setidaknya mengingatkan saya dengan tim nasional Spanyol yang juga berhasil mengawinkan berbagai gelar tim senior dengan tim juniornya.

ANALISIS PERTANDINGAN

Gol sundulan bek Gunawan Dwi Cahyo yang meluncur deras ke pojok kanan gawang Malaysia yang dikawal Khairul Fahmi seperti membuat SUGBK bergetar, begitu juga mungkin di dalam dada setiap penonton yang hadir langsung di stadion. Namun, setelah itu permainan kita seakan mengambang. Kesalahan passing, kontrol bola, dan kesalahan elementer lain seperti dribbling yang tidak tepat waktunya seperti tidak pernah menjadi pelajaran bagi skuad arahan Rahmad Darmawan. Sebaliknya, Malaysia justru banyak memanfaatkan kesalahan - kesalahan Indonesia. Terhitung dari banyaknya shot on goal yang dilepaskan Malaysia sejak gol Indonesia. Ada sekitar 4-5 tendangan yang mengarah tepat ke gawang Indonesia. Lalu, kembali melalui sebuah serangan balik Malaysia berhasil menghukum kelalaian lini pertahanan Indonesia yang memberi ruang kepada Omar Mohd yang berhasil mengonversi umpan tarik Bakhtiar Baddrol di mulut gawang Indonesia. Skor kembali imbang 1-1.

Sepanjang jalannya pertandingan, Indonesia memang banyak memiliki ruang untuk mengembangkan permainan, tapi Malaysia memiliki ide lain dengan melakukan pressing ketat di area 16 meter pertahanannya. Gurusamy, gelandang bertahan Malaysia bermain "sesuai tugasnya" menurut saya. Karena posisinya diarahkan untuk berada tetap di depan 4 bek Malaysia, menjaga keseimbangan lini tengah, dan mengintersepsi umpan - umpan terobosan yang mengarah ke pertahanan timnya. Begitu juga dengan gaya bermain Malaysia yang mengembangkan permainan narrow alias meminimalisir spasi diantara pemainnya dan memanfaatkan lebar lapangan menggunakan umpan - umpan panjang Bakhtiar bin Baddrol. Bek sayap mereka Mahali dan Azmi pun jarang melakukan overlap, sesekali saja ia naik membantu penyerangan. Ini yang membuat counter attack Indonesia seringkali mentah di kaki full-back Malaysia, selain juga karena gelandang sayap Indonesia Okto dan Andik kerap kali kehilangan akal untuk melewati Mahali dan Azmi. Kemudian untuk lini depan, posisi penyerang Malaysia, Fakri lebih banyak terakuisi oleh pertahanan Indonesia, itu dikarenakan ia bermain sebagai penyerang tunggal dan posisi Baddrol yang lebih banyak turun sebagai gelandang tengah, atau lebih sering dikenal dengan istilah false 10.

Malaysia juga sering diuntungkan dengan gaya bermain Indonesia yang mengandalkan umpan - umpan panjang ke pertahanan mereka. Gaya bermain yang menurut saya lama kelamaan bisa mendarah daging di tubuh timnas sepakbola Indonesia. Selama perhelatan SEA Games ini kita beruntung memiliki Patrich Wanggai dan Titus Bonai yang skill individunya diatas rata - rata, kecepatan Andik dan Okto, serta kemampuan melepas umpan(baik pendek maupun panjang) yang sangat baik yang dimiliki Egi di tengah. Karena sesungguhnya menurut saya pribadi, secara kolektif permainan Indonesia masih jauh dari kata memuaskan, apalagi jika harus berhadapan dengan Malaysia yang secara taktikal jauh lebih baik dari Indonesia.

Di babak kedua dan perpanjangan waktu, jalannya pertandingan tidak banyak berubah. Rahmad Darmawan memasukkan Ferdinand Sinaga, Hendro Siswanto, dan Ramdani Lestaluhu untuk menggantikan Andik Vermansyah, Mahadirga Lasut dan Patrich Wanggai. Hendro bertukar peran dengan Egi Melgiansyah yang cenderung lebih defensif. Ferdinand mengisi pos penyerang, dan Ramdani menjadi sayap kanan. Indonesia sempat mencetak gol di awal babak perpanjangan waktu, namun dianulir wasit karena tayangan ulang menunjukkan Okto berada di posisi offside. Memasuki babak perpanjangan waktu, keterbatasan fisik menjadi kendala kedua tim untuk memainkan umpan - umpan pendek dari lini ke lini, alhasil acapkali saya menyoroti Egi sering melakukan long passing ke pertahanan Malaysia, juga sepanjang pertandingan karena jarak antar pemain Indonesia terlihat begitu renggang. Di menit - menit terakhir, Indonesia memiliki berbagai peluang melalui Ferdinand, Egi, dan Tibo, namun masih gagal menembus gawang Malaysia.

Di babak adu penalti, fase dimana kekuatan mental berbicara lebih banyak melampaui kekuatan fisik dan teknik. Gunawan dan Ferdinand sebagai algojo Indoesia gagal melakukan tugasnya, sementara di kubu Malaysia, Fakri menjadi satu - satunya yang gagal. Skor berakhir 4-3. Malaysia menjadi juara SEA Games 2011. Indonesia lagi - lagi harus menelan pil pahit dengan 'hanya' meraih medali perak SEA Games cabang sepakbola, mengulangi perolehan SEA Games tahun 1979, kala itu Indonesia juga dikalahkan Malaysia di Gelora Utama Senayan (nama lama SUGBK) dengan skor 0-1. Sementara itu, Malaysia berhasil menorehkan tinta emas di sejarah persepakbolaan Asia Tenggara dengan mempertahankan gelar yang mereka raih pada SEA Games 2009 di Laos. Kala itu, Malaysia juga meraih medali emas dibawah asuhan pelatih Rajagopal.

Inilah yang menjadi kenyataan. Selayang kita memandang rumput tetangga kita memang lebih hijau, jauh lebih hijau. Kita harus menahan perasaan dalam - dalam karena sepakbola kita, sekali lagi nyaris meraih gelar. Nyaris yang sudah kesekian kali kita harus telan hidup - hidup melihat kenyataan sepakbola Malaysia sudah jauh meninggalkan sepakbola Indonesia yang masih "autis" dengan konflik dualisme liga.

Selasa, 06 September 2011

Catatan dan Harapan


Selalu ada magis tersendiri tiap kali tim nasional sepakbola Indonesia bertanding di stadion utama Gelora Bung Karno, catat: selalu. Tiada yang lebih menggembirakan buat saya dibanding menantikan kapan tim nasional sepakbola negara saya bertanding di kandangnya, dengan begitu saya bisa menyaksikan sekaligus mendukung secara langsung di stadion. Mungkin perasaan itu juga yang dimiliki oleh ribuan suporter yang berbondong - bondong datang dari berbagai kalangan dan golongan. Euforia kebangsaan itu selalu membuncah kala semuanya melangkah berjalan menuju stadion.

Malam itu Indonesia menjamu Bahrain di ajang pra-kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia. Bahrain yang kita kalahkan di Piala Asia 2007 telah 2 kali menembus babak play-off Piala Dunia, datang dengan rasa penasaran yang semakin besar karena mereka 2 kali juga gagal di babak tersebut, pertama di tahun 2006 saat kalah dari Trinidad & Tobago, dan di tahun 2010 saat Selandia Baru menyingkirkan mereka. Keraguan itu sempat mengapung kala gelandang kita Ahmad Bustomi dan Firman Utina 2-3 kali kehilangan bola, entah karena terlalu asik 'menggoreng' bola atau terlalu lama menahan bola untuk mencari rekan sehingga lawan bisa merebut. Beruntung fastbreak yang dilancarkan Bahrain tidak terlalu bermasalah bagi lini belakang. Bagi saya, pemain terbaik malam itu adalah Hamka Hamzah. Terlepas dari bobolnya gawang kita, kalau saya tidak salah mengamati, ia pemain paling banyak dan sukses melakukan intersepsi, tekel, dan duel udara. Angka statistik Hamka menurut saya hanya bisa disamai Ahmad Bustomi. Gelandang favorit saya ini selalu bermain tenang dalam meng-konduktor-i irama permainan, mengalirkan bola dari satu lini ke lini lain, jumlah passingnya pun saya amati banyak yang sukses, meski akhirnya harus diganti karena cedera, menurut saya dialah pemain yang memiliki visi permainan paling jelas dan paham bagaimana memainkan sepakbola modern.

Sepakbola adalah permainan kolektivitas, bagaimana kemampuan individu menjadi inferior manakala kemampuan tersebut tidak memberi manfaat bagi kelompoknya. Prinsip sepakbola itu sesungguhnya sederhana. Tidak serumit olahraga lain macam golf, baseball, yang mesti dimainkan oleh orang tertentu dan alat tertentu juga. Belum lagi aturan mengenai poin - poin, saya sendiri kurang paham bagaimana penilaiannya. Di sepakbola, dari rakyat miskin hingga orang parlente semua bisa melakukannya. Hitam, putih, kurus, gemuk, tinggi, pendek boleh. Siapapun. Jadi jangan heran jika kita melihat aksi lempar botol dan petasan seperti yang terjadi di pertandingan malam tadi, karena pada dasarnya siapapun, entah berpendidikan atau tidak, dewasa atau tidak, sepakbola yang begitu sederhana berhak disaksikan siapapun. Di sepakbola, siapa yang mampu mencetak gol lebih banyak dari lawan, dialah pemenangnya. Kita tidak akan melihat bagaimana indahnya permainan suatu tim atau betapa buruknya suatu tim bermain, yang jelas kemenangan adalah suatu nilai yang dianggap istimewa, terlebih bagi tim sepakbola dengan nirgelar seperti Indonesia. Sebuah tim yang bermain di hadapan ribuan pendukungnya lazimnya lebih banyak menguasai jalannya pertandingan, penetrasi ke kotak penalti lawan yang bertubi - tubi dan segala jenis kegagahan lain. Tapi yang saya dan mungkin ribuan pasang mata lain saksikan malam tadi tidak lain adalah hal yang sudah kita hafal dari permainan sepakbola kita: umpan panjang tanpa jelas tujuan dan penyelesaiannya. Begitu dan begitu yang dilakukan pemain kita. Saya tidak menyalahkan pihak manapun, baik Firman yang tampil di bawah performa biasa, atau strategi pelatih Wim Rijsbergen yang tidak berjalan dengan baik, ini semua adalah produk kompetisi lokal yang (maaf) kacrut. Saya ibaratkan korelasi kompetisi, pemain dan pelatih itu bagai petani, hasil tani, dan yang mengolah hasil tani.

Sebaik apapun hasil tani, jika jatuh ke tangan yang tidak handal di bidangnya, maka hasil tani tersebut menjadi hal yang sia - sia. Begitu juga dengan hasil tani, jika tidak diolah secara efektif dan efisien, mustahil akan menjadi sesuatu yang memiliki nilai. Sama halnya dengan petani, kemampuan petani dalam menyeleksi produk mana yang dirasa memiliki nilai lebih dari yang lainnnya menjadi krusial. Kompetisi, pembinaan, sistem yang memadai menjadi hal yang WAJIB diperhatikan oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini PSSI sebagai induk sepakbola negeri kita. Tanpa hal tersebut, mustahil kita akan memetik prestasi sepakbola yang selama ini kita rindukan. Sebagai komparasi, Jerman mengalami keterpurukan dengan menjadi juru kunci di Piala Eropa 2000, padahal status mereka saat itu adalah juara bertahan. Jerman diperkuat sejumlah pemain senior, sebut saja Lothar Matthaeus, Thomas Haessler, Markus Babbel yang telah lama menghuni skuad Der Panzer. Sadar akan hal ini, federasi sepakbola Jerman menyadari adanya degradasi yang harus segera dihapus. Mereka merevitalisasi sistem pembinaan pemain muda, kompetisi, keuangan klub, dll. Memang butuh waktu yang agak lama untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, yakni kejayaan sepakbola yang selama ini mereka rindukan. Setidaknya pemain tim nasional Jerman saat ini rata - rata berusia 23 - 24 tahun, bahkan pemain seusia Phillip Lahm (27 tahun) sudah menjadi pemain yang dianggap uzur di timnya. Hasil revolusi dan revitalisasi besar - besaran tersebut kelak akan mereka rasakan, karena sejauh ini mereka telah meraih posisi 3 di Piala Dunia 2006, runner up Piala Eropa 2008, dan semifinalis Piala Dunia 2010, hanya masalah waktu yang akan menjawab kapan Jerman akan meraih gelar demi gelar.

Pemain yang berbakat tidak ubahnya hasil tani dan produk dari sistem kompetisi dan pembinaan yang baik. Tiada mungkin pemain berbakat datangnya jatuh dari langit seperti Mr. Bean. Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Xavi, Andres Iniesta, bisa menjadi seperti sekarang ini karena mereka telah melalui tahapan pembinaan yang baik. Memang tidak semua akan menjadi pemain - pemain tersebut, setidaknya jika federasi sepakbola kita melakukan hal itu, maka kita telah berada di jalur yang benar.

Pelatih adalah muara dari segala proses yang telah dilalui pemain lewat kompetisi yang sudah dijalaninya. Keputusan pemilihan pemain dan taktik yang dapat diterapkan menjadi hal yang harus dikuasai setiap pelatih. Seperti halnya bagaimana kemampuan koki dalam memilih resep masakan yang dapat menghasilkan kuliner yang 'mantap'. Pelatih sekelas Pep Guardiola tahu betul mengapa Barcelona harus menjual Yaya Toure ke Manchester City, karena saat itu Sergio Busquets siap 'mekar' untuk meraih posisi di tim inti Barcelona.

Untuk menghasilkan tim nasional yang mampu berprestasi bukanlah perkara mudah, semudah Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan dalam waktu semalam. Malaysia, Singapura, Thailand, telah jauh lepas landas meninggalkan saudaranya. Tinggal bagaimana perubahan dapat dilakukan demi harapan jutaan penggemar sepakbola di negeri ini. Ya seperti kata @andibachtiar (Andibachtiar Yusuf, sutradara dan orang yang mengaku beragama sepakbola), yang negeri ini miliki adalah harapan dan harapan....

Senin, 22 Agustus 2011

Setan - Setan Muda Manchester


Legenda Liverpool, Alan Hansen yang notabene pundit senior di acara televisi 'Match of The Day', yakni acara sepakbola yang ditayangkan di saluran televisi BBC (saluran televisi yang berbasis di Inggris Raya) mengeluarkan pernyataan historikal dengan menyebutkan Manchester United (MU) yang diasuh Alex Ferguson tidak akan bisa memenangkan gelar apapun dengan 'anak - anak' atau 'you"ll never win anything with kids'. Terlepas dari rivalitas perolehan gelar antara Liverpool dan MU, ucapan tersebut terlontar dari mulut Alan Hansen lantaran MU mengalami kekalahan di pekan pertama musim 1995/1996 dari Aston Villa dengan skor 3-1.

Di musim tersebut, Fergie secara mengejutkan melego beberapa pemain kuncinya yakni Mark Hughes, Paul Ince, Lee Sharpe, Andrei Kanchelskis. Padahal dengan pemain - pemain tersebut, MU berhasil 'memulangkan' gelar juara Liga Inggris yang selama 2 dekade gagal dirasakan publik Old Trafford. Tanpa menjelaskan alasan secara eksplisit, keputusan tersebut mengundang pro kontra di kalangan penggemar maupun pengamat sepakbola. Terlebih jika dikorelasikan dengan hasil di pekan pertama musim 1995/1996, MU sebagai juara bertahan kalah di pertandingan pembuka.

Sepeninggal 4 pemain senior tersebut, Fergie berkeyakinan akan memulihkan kepercayaan publik dengan mengorbitkan pemain muda jebolan akademi sepakbola MU. Kita tentu mengenal sebutan 'Class of 92', angkatan akademi sepakbola MU tahun 1992 yang berhasil menjuarai Piala FA Usia Muda, dan mengangkat karier legenda - legenda hidup MU yakni Ryan Giggs, Paul Scholes, Neville bersaudara, David Beckham, dan Nicky Butt. Performa gemilang yang ditunjukkan anak - anak itu di level reserve meyakinkan Fergie untuk segera menyiapkan arena bagi calon punggawa MU di musim - musim mendatang tersebut. 1995/1996 adalah musim pertama bagi Ryan Giggs dkk bermain bersamaan di tim senior. Hasilnya? Double winner berhasil direngkuh MU. Bermaterikan kombinasi pemain senior seperti Eric Cantona, Steve Bruce, dan Gary Pallister, Fergie berhasil meramu serum yang jitu mematahkan segala keraguan di mata publik. Lebih istimewa lagi, MU meraih gelar Piala FA dengan mengalahkan Liverpool di final, dan memastikan gelar Liga Inggris setelah menang 3-1 atas Liverpool di Anfield. Suatu cara yang istimewa untuk membungkam opini Alan Hansen.

Fast-forward waktu ke musim 2011/2012, dimana MU baru saja ditinggal 3 pemain senior yang musim lalu berhasil memberikan gelar juara Liga Inggris bagi MU untuk kali ke-19, yakni Edwin van Der Sar, Gary Neville, dan Paul Scholes. Manajemen MU lalu sibuk berlomba di bursa transfer demi menambal lubang yang ditinggalkan 3 pemain yang pensiun tersebut. David De Gea, Phil Jones, Ashley Young direkrut dengan budget nyaris menyentuh angka 50 juta poundsterling. Pemain reserve seperti Tom Cleverley, Danny Welbeck, Federico Macheda, Mame Biram Diouf pulang dari masa pinjaman.

Sukses mendulang 3 kemenangan di 3 pertandingan awal musim ini, banyak yang menyebut kesuksesan ini diraih berkat penampilan apik dari rekrutan baru MU, De Gea, Jones, dan Young, ditambah semakin matangnya 2 produk akademi MU, Cleverley dan Welbeck. Welbeck, pemain lokal kelahiran Salford (daerah di Manchester tempat kelahiran Paul Scholes, Wes Brown, Danny Simpson) mulai menunjukkan kilaunya untuk siap berkompetisi di lini depan MU bersama Wayne Rooney, Javier 'Chicharito' Hernandez, Dimitar Berbatov, Michael Owen, Federico Macheda, dan Mame Biram Diouf. Sejauh ini dengan belum fitnya Chicharito, Welbeck dipercaya The Gaffer menemani Rooney di lini depan. Hasilnya lumayan juga, Welbeck berhasil menyarangkan 1 gol kala MU menundukkan Tottenham Hotspur 3-0 di pertandingan kedua Liga Inggris yang dimainkan MU. Cleverley berhasil memainkan peran apik di lini tengah dengan memberi assist kepada rekannya tersebut. De Gea melakukan sekitar 4-5 penyelamatan, duet Jones - Evans kokoh di posisi bek menggantikan duet Ferdinand - Vidic.

Dipadukan dengan pemain senior seperti Evra, Rooney, dan Nani, Fergie seharusnya mampu mengembalikan hegemoni pemain muda untuk meraih kesuksesan demi kesuksesan bagi MU. Dengan memiliki kedalaman skuad senior dan muda seperti sekarang ini, rasanya bukan tidak mungkin melihat MU kembali berjaya di musim - musim mendatang bersama Setan - Setan Mudanya, tinggal bagaimana Fergie bisa menemukan (lagi) serum yang jitu untuk pasukannya.

Who's said we can never win anything with kids? We reach everything with kids!:)

Minggu, 10 Juli 2011

Jika Saya Sergio Batista


Kita sudah menyaksikan bagaimana tim Tango Argentina belum mampu memenuhi ekspektasi ribuan pecinta sepakbola di tanah airnya dan penggemar timnas Argentina yang menyaksikan Piala Amerika 2011. Nada sumbang berdatangan, bahkan cibiran bagi kesebelasan yang diasuh Sergio Batista ini. Banyak yang menyayangkan bagaimana Lionel Messi cs tidak bermain dengan kemampuan yang biasa mereka keluarkan saat berkostum klubnya masing - masing.

Saya tidak sedang bermimpi, namun coba mengibaratkan diri saya sebagai Sergio Batista, bekas gelandang Argentina di Piala Dunia 1986 yang kini mengarsiteki negaranya tersebut. Saya mengambil point of view seperti sedang bermain game Football Manager (FM), berikut yang akan saya lakukan jika saya Sergio Batista.

Mengubah susunan formasi sebagai berikut:
Kiper: Sergio Romero. Pos ini akan tetap saya percayakan kepada kiper tim AZ Alkmaar ini, mengingat permainannya yang gemilang kala menahan gempuran Radamel Falcao Garcia dan Kolombia nya di pertandingan kedua grup A.

Bek kiri: Javier Zanetti. Il Capitano Internazionale yang telah bermain bola untuk negaranya sejak tahun 1994 ini memiliki kapabilitas menjamah kedua sisi lapangan pertandingan. Peran sebagai bek kiri kini nyaris menjadi posisi utamanya di klub mengingat Internazionale memiliki bek kanan handal asal Brazil, Maicon.

Bek kanan: Pablo Zabaleta. Sejak usia muda bek Manchester City ini telah fasih bermain sebagai bek kanan. Pengalamannya bermain di La Liga dan Liga Premier Inggris seharusnya mampu memperbaiki kinerja lini full-back Albiceleste.

Untuk posisi bek tengah, saya menganggap ini adalah posisi yang sangat rawan bagi tim Argentina, mengapa? Telah 2 pertandingan kita saksikan pelatih Sergio Batista memainkan duet Nicolas Burdisso dan Gabriel Milito. Cukup aneh bagi saya, karena duet ini sudah sejak lama tidak bermain secara bersamaan atau dapat dikatakan duet bek tengah ini bukanlah duet reguler tim Argentina.

Gabriel Milito. Bek tengah Barcelona yang belakangan menjadi penghangat bangku cadangan El Barca lantaran cedera berkepanjangan yang sempat menimpanya dan semakin kompaknya duet Carles Puyol - Gerard Pique ini tiba - tiba menyita perhatian publik dengan menjadi bek inti di tim nasionalnya. Saya menyayangkan keputusan pelatih Sergio Batista menepikan Martin Demichelis dari tim nasional. Secara usia, Demichelis dan Milito memang tidak terlalu terpaut jauh. Demichelis bahkan menjadi starter di setiap pertandingan yang Argentina mainkan di Piala Dunia 2010 dan ia juga bermain bagi Bayern Munchen di final Liga Champions 2010. Menurut saya agak ironis Demichelis tidak diikutsertakan di turnamen Piala Amerika kali ini, karena ia konsisten bermain di level tertinggi kompetisi baik yang berskala Eropa maupun dunia. Artinya dengan lebih intensifnya Demichelis tampil di pertandingan kompetitif, seharusnya kansnya lebih besar untuk membela timnas Argentina. Namun kenyataan berkata lain, Martin Demichelis tidak ikut serta di Piala Amerika kali ini.

Saya memiliki opsi seperti ini, memainkan Javier Mascherano sebagai bek tengah seperti yang sering dilakukan Pep Guardiola di Barcelona pada paruh kedua La Liga dan bahkan final Liga Champions musim lalu. Hasilnya tidak terlalu buruk. Javier bermain apik saat mengisi posisi bek tengah yang sering ditinggal Carles Puyol yang banyak berkutat dengan cederanya di paruh kedua musim lalu. Messi sendiri pernah menyatakan tipe pemain macam Javier Mascherano adalah tipe pemain yang akan selalu dibutuhkan untuk setiap tim, jadi tidak ada salahnya menempatkan kapten Argentina di Piala Dunia 2010 itu di posisi bek tengah berdampingan dengan Nicolas Burdisso.

Lalu bagaimana susunan lini tengahnya?
Saya memiliki 2 opsi untuk lini tengah. Yang pertama, menempatkan posisi 2-1 yakni memainkan Ever Banega dan Esteban Cambiasso sebagai holding midfielder serta sedikit "menurunkan" Messi sebagai trequartista di belakang penyerang. Opsi ini berlaku jika memang Argentina hendak melakukan strategi "gung ho" (yang sering main FM pasti tahu) alias menyerang dengan tempo tinggi. Namun jika memang harus memainkan opsi ini, akan sedikit banyak menggembosi lini tengah dan lini pertahanan tim, karena Messi akan dipaksakan lebih menyerang dibanding mengatur serangan dari lini tengah. Lalu opsi kedua yakni dengan memainkan Javier Pastore. Salah satu properti terpanas di bursa transfer musim panas ini menurut saya terlalu berharga untuk sekedar menjadi cadangan di Piala Amerika. Terlebih pelatih Sergio Batista seharusnya menyadari ajang sebesar ini mestinya menjadi "arena" bagi Pastore untuk unjuk kebolehan sebagai playmaker seperti yang dengan mulus ia lakukan di Palermo musim lalu.

Saya sadar saya secara pribadi (bukan sebagai jika saya Sergio Batista) akan dipusingkan dengan deretan lini depan yang berisi: pemain terbaik dunia 2 kali berturut - turut, topskorer Liga Champions selama 3 musim terakhir, Lionel Messi, lalu striker dan winger Real Madrid, Gonzalo Higuain dan Angel di Maria, kemudian striker yang mencetak dwigol di final Liga Champions musim 2010, Diego Milito, ada juga topskorer Liga Inggris bersama Dimitar Berbatov musim lalu, Carlos Tevez, lalu menantu Diego Maradona yang juga punggawa Atletico Madrid, Sergio 'Kun' Aguero, dan yang terakhir adalah striker yang berhasil membawa klubnya Napoli masuk ke Liga Champions musim depan, Ezequiel Lavezzi. Pilihan harus tetap dilakukan. Saya juga memiliki beberapa opsi untuk pos ini. Opsi pertama, memainkan trio Lionel Messi - Gonzalo Higuain - Angel Di Maria. Trio ini mampu memainkan posisi berbeda di lini depan sama baiknya, alias mereka dapat bertukar posisi jika memang dibutuhkan saat pertandingan mengalami deadlock. Higuain memiliki kapabilitas sebagai winger kanan, Messi dapat bermain sama baiknya di sisi manapun di lini depan, Di Maria biasa ditempatkan di sisi kanan maupun kiri oleh Jose Mourinho di klubnya. Jadi dengan trio ini dapat dipastikan lini belakang manapun akan mendapat teror tiada henti sepanjang pertandingan. Opsi kedua, memainkan trio Sergio Aguero - Diego Milito - Carlos Tevez, dengan asumsi Lionel Messi dimainkan sebagai trequartista. Banyak yang mengkritik pelatih Batista karena tidak memercayakan lini depan kepada Aguero yang mencetak gol penyeimbang di laga pertama kontra Bolivia. Tidak banyak tipe striker murni yang dimiliki Argentina sepeninggal Gabriel Batistuta & Hernan Crespo, dan menurut saya Diego Milito bisa menjadi opsi stiker murni di lini depan Argentina. Tanpa mengecilkan peran Ezequiel Lavezzi di skuad Argentina, namun jika melihat performanya yang kurang memuaskan di 2 pertandingan awal, rasanya Sergio Batista memiliki alasan untuk memarkir striker asal Napoli tersebut demi kepentingan taktik dan strategi tim.

Jika mengingat perkataan Adolf Hitler bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang, maka tidak ada cara lain selain memanfaatkan sumber daya yang dimiliki Argentina di lini depan, dengan penekanan tiga striker. Tinggal bagaimana Sergio Batista menggodok strategi yang tepat untuk diterapkan di timnya agar mampu memberikan hasil maksimal di perhelatan kali ini. Ini opiniku, bagaimana opinimu? :D

Senin, 18 April 2011

Arsenal oh Arsenal...


Arsenal akan tetap menjadi Arsenal yang sama, Arsenal yang menginjak pedal gas dalam - dalam di awal musim, lalu seperti kehilangan kendali untuk menghentikan lajunya sehingga kehilangan kontrol dan keseimbangan di pertengahan musim. Seperti sudah ditakdirkan, Arsenal terlihat begitu menakutkan di awal musim dengan gelontoran golnya ke gawang lawan, seperti kemenangan 6-0 atas Blackpool, atau dengan jumlah gol yang sama saat mereka menghancurkan Braga di Liga Champions. Tapi mereka terlihat begitu ringkih ketika harus menyerah dari West Brom dan Newcastle di kandang, dan ketika mereka disalip begitu mudahnya saat melakoni Derby London melawan Tottenham Hotspur yang mana mereka telah unggul 2-0 pada babak pertama, namun pada akhir laga kedudukan justru berbalik menjadi 3-2 bagi tim tamu. Belum lagi problem pelik macam cedera pemain yang silih berganti menghantui ruang ganti tim. Fabregas, Diaby, Fabianski, Nasri harus 'mengantri' untuk naik meja operasi.

Rollercoaster tidak berhenti disitu, Arsenal sempat jumawa ketika mereka berhasil menundukkan Chelsea pada akhir Desember, dan tentu yang tidak terlupakan adalah saat mereka menundukkan Barcelona di Emirates Stadium pada babak perdelapan besar Liga Champions. Kala itu permainan mereka disanjung setinggi langit, pemuda macam Jack Wilshere acapkali menjadi buah bibir karena permainannya yang menawan, Robin Van Persie seakan melakukan comeback yang sempurna di awal musim dingin karena jumlah golnya yang mengharuskan Marouane Chamakh menjadi penghangat bangku cadangan. Kemudian mereka berhasil mencapai final Piala Carling (lagi) setelah terakhir mencapainya pada musim 2006/2007. dan (lagi-lagi) mereka harus menyerah di partai puncak, kali ini lawannya...err.. Birmingham City, tim yang notabene sedang berjuang keluar dari zona merah Liga Inggris. Blunder Koscielny - Sczeszcny (maafkan spelling saya) di penghujung pertandingan mengharuskan Cesc Fabregas menunda debutnya mengangkat trofi sebagai kapten the Gunners. Apa yang salah dengan tim yang pada nyatanya memainkan sepakbola atraktif, bermaterikan pemain yang memiliki skill individu di atas rata - rata dan dilatih pelatih berpengalaman macam Arsene Wenger? Berikut beberapa faktor mengapa Arsenal akan tetap menjadi Arsenal:

1. Figur Pemimpin
Banyak yang menyesalkan kepergian Patrick Vieira ke Juventus setelah musim 2004/2005 berakhir. Pasalnya semenjak pensiunnya Tony Adams, Arsene Wenger belum menemukan figur yang cocok dijadikan pemimpin di lapangan selain Vieira. 2004/2005 juga merupakan musim perdana Francesc Fabregas Soler, bocah asal Spanyol berambut mullet yang 5 musim kemudian mendapat giliran mengemban tugas sebagai jenderal lapangan yang diharapkan membawa kembali masa kejayaan Arsenal seperti era Adams dan Vieira. Cesc Fabregas begitu saat ini kita mengenalnya, adalah gelandang tengah dengan visi permainan luar biasa, passing dan shootingnya sama akuratnya, namun cedera kerap kali menghambatnya menampilkan permainan terbaiknya. Dan ketika Fabregas absen, Arsenal bagai kehilangan induk semang. Song, Diaby, Wilshere, Nasri dan gelandang lain seakan kehabisan ide untuk membongkar pertahanan lawan. Namun, saya melihat peran Fabregas bukanlah sebagai pemimpin, ia lebih memberikan kekuatan psikologis kepada rekan-rekannya, karena Fabregas jarang berteriak mengatur seperti apa yang dilakukan Vieira, namun kehadirannya begitu dirasa memberikan kenyamanan bermain bagi skuad Wenger. Arsenal rindu sosok figur pemimpin, literally pemimpin macam John Terry di Chelsea atau Nemanja Vidic bagi Manchester United.

2. Mental dan inkonsisten
Bertahun - tahun lalu ketika Ashley Cola masih bermain di Arsenal, ia memiliki pelapis muda (pada saat itu) yakni Gael Clichy, yang digadang - gadang bakal menjadi pemain kunci bagi Arsenal di tahun - tahun mendatang. Juga Emmanuel Eboue, Theo Walcott, Aaron Ramsey yang direkrut saat usia mereka belum juga berkepala 2. Ketika itu pula banyak anekdot 'Arsenal 5 tahun kemudian bakal menjadi tim terbaik di dunia dengan talenta muda yang dimilikinya'. Saat ini apakah mereka telah benar - benar menjadi tim terbaik di dunia? Tentu tidak. Tim terbaik di dunia tidak akan kecolongan 4 gol di babak kedua ketika mereka telah unggul 4-0 di babak pertama. Well, saya tidak menyindir apa yang terjadi pada Arsenal saat mereka bermain seri dengan Newcastle United, tapi memang begitu kenyataannya. Atau tim terbaik dunia bukanlah tim yang memainkan 4 kiper secara bergantian selama satu musim, ini menunjukkan kelabilan dan ketidakseimbangan mental di skuad Arsenal. Lihat saja ketika mereka disingkirkan Barcelona di leg 2 perdelapan final, atau ketika harus tersingkir dari Piala FA lantaran dikalahkan rival abadi mereka Manchester United. Mental bertanding pasukan muda Wenger dan konsistensi lagi - lagi dipertanyakan.

3. Pemain Belakang
Saya benar - benar tidak membandingkan Jamie Carragher, John Terry, Rio Ferdinand, William Gallas dengan Johan Djourou, Laurent Koscielny, atau Thomas Vermaelen, tapi bukannya memang sudah terlihat secara signifikan perbedaan nama - nama di atas? Arsenal membutuhkan bek nomor wahid untuk menjaga kestabilan permainannya. Lihat saja jika dibandingkan dengan barisan gelandang dan penyerang yang telah memiliki reputasi hebat di Eropa bahkan dunia, sungguh jomplang jika mereka masih harus bertumpu dengan nama yang (maaf) medioker macam Djourou, Koscielny padahal mereka harus berhadapan dengan Lionel Messi, Luis Suarez dan penyerang - penyerang lain di berbagai kompetisi berbeda. Wenger mestinya men-serius-kan langkahnya merekrut Per Mertesacker pada musim panas lalu.

Arsenal masih akan berhadapan dengan Manchester United di Emirates pada awal Mei, dengan defisit 6 poin dan unggul 1 pertandingan akankah mereka mampu mengembalikkan prediksi dan menyalip Manchester United di puncak klasemen? Akankah Arsenal 'berbuka puasa' setelah terakhir meraih gelar Liga Inggris sejak 2003/2004? We'll see...

Senin, 31 Januari 2011

A New Hope



Entah benar membawa pengaruh atau tidak, yang jelas sejak kepemilikan Liverpool berpindah dari rezim Hicks-Gillet ke John W. Henry dan kepelatihan dari Roy Hodgson ke Kenny Dalglish, seakan nasib baik kembali menaungi awan Anfield. Meski di laga awal Liverpool ditaklukkan rival abadinya, Manchester United di putaran ke-3 Piala FA, dan harus menyerah dari Blackpool, setidaknya kedatangan legenda hidup mereka 'King' Kenny Dalglish telah memberi aura positif bagi tim. Setelah bermain imbang di derby Merseyside, barulah di laga keempat ia berhasil memberi kemenangan bagi timnya, saat The Reds berkunjung ke Molineux, kandang Wolverhampton. Liverpudlian setidaknya dapat memperpanjang nafas mereka.

2 minggu terakhir menjelang bursa transfer tutup, manajemen Liverpool gencar melakukan aktifitas transfernya. Mereka (akhirnya) melepas Ryan Babel ke Hoffenheim. Pemain ini memang menjadi langganan timnas Oranje Belanda, namun beberapa musim belakangan penampilannya kurang impresif, sehingga manajemen memutuskan untuk melegonya. Siap-siap menyaksikan drama transfer yang bisa dibilang gila...

1) Fernando Torres pindah ke Chelsea. Ya, ini benar - benar terjadi. Striker yang selama bertahun - tahun menjadi roh Liverpool bersama Steven Gerrard ini resmi meninggalkan Anfiel untuk berlabuh di Stamford Bridge, markas Chelsea dengan bandrol 50 juta poundsterling. Sebuah hal yang membuat sesak nafas Liverpudlian mengingat 'El Nino' telah memberi sumbangsih gol yang tidak sedikit. Mengapa harus Chelsea? Saya menyoroti 2 faktor; Liga Champions dan uang transfer. Tidak ada yang memungkiri bahwa Fernando Torres striker papan atas Eropa. Namanya selalu menghiasi daftar topskor Liga Inggris, minimal menyentuh double-digit. Tapi, sejak musim lalu ia menjadi pesakitan. Keran golnya seakan macet, meja operasi telah menjadi rekannya selama berpekan - pekan, dan berimbas pada penampilan buruknya bersama timnas Spanyol di Piala Dunia 2010. Kini, ia bergabung bersama Chelsea, dimana tim London Biru ini memiliki predator macam Didier Drogba, dan Anda bisa bayangkan kedua striker ganas ini bila diduetkan. Dahsyat. Terlebih Chelsea menawarkan nilai plus, karena Torres akan bermain di Liga Champions (meski musim ini ia tidak dapat diturunkan karena telah membela Liverpool di Liga Eropa), namun setidaknya ia telah bergabung dengan tim yang memiliki ambisi besar untuk mengakomodir impiannya tersebut.

Faktor lain adalah uang transfer yang menggiurkan. Nilai transfer saat ini yang makin menggila membuat Chelsea harus berkali - kali menaikkan tawarannya demi mendapatkan servis Torres. Begitu menyentuh angka 50 juta pounds, Liverpool seperti menghela nafas dengan tidak dapat menolak tawaran tersebut, sebuah harga yang worth it untuk striker sekelas Torres.

2) Andy Carroll dan Luis Suarez pengganti Fernando Torres. Luis Suarez memang sejak awal bursa transfer dibuka telah memenuhi halaman depan surat kabar mengenai spekulasinya meninggalkan Ajax Amsterdam untuk bergabung dengan Liverpool. Dan di hari terakhir transfer window musim dingin ini, Liverpool sukses mendaratkan pemain yang mencetak hattrick ke gawang ke Indonesia, Oktober lalu tersebut dengan bandrol 26,5 juta poundsterling. Suarez akan mengenakan nomer legendaris yang dulu sempat menjadi nomer suci milik sang pelatih.

Andy Carroll. Striker jangkung yang lebih mirip pendekar kolosal ini diproyeksikan menggantikan posisi goal-getter yang ditinggalkan Torres. Torehan 11 golnya di paruh musim pertama bersama Newcastle United cukup meyakinkan Kenny Dalglish untuk memboyongnya ke Anfield. Bersama klub yang membesarkan namanya tersebut Carroll telah mengecap sukses, salah satunya ia berhasil menjalani debut dengan timnas Inggris kala mereka ditaklukkan Prancis tahun lalu. Tawaran menggiurkan sebesar 35 juta poundsterling sulit ditolak kubu Newcastle yang memang membutuhkan dana segar untuk kebutuhan tim. Harga tersebut juga memecahkan rekor transfer pemain Inggris milik Rio Ferdinand yang bergabung dengan Manchester United dari Leeds United pada musim 2002/2003. Bersama Steven Gerrard cs, Carroll - Suarez diharapkan membawa angin segar bagi permainan the Reds dibanding ketika hanya bertumpu pada Torres dan Gerrard, dan lebih penting lagi untuk mengembalikan posisi Liverpool ke zona Eropa meski kelihatannya sulit karena Chelsea, Arsenal, Manchester City dan Manchester United begitu konsisten setiap pekannya untuk mempertahankan posisi masing - masing.

Harapan baru tela datang. Meminjam judul film Star Wars episode IV; A New Hope.

Selasa, 30 November 2010

El Classico jilid 161

30 November 2010 akan diingat sebagai hari yang bersejarah bagi publik Katalan yang diwakili 11 pemain di lapangan atas nama Barcelona. Kemenangan atas sang rival abadi, sang pemilik kerajaan Spanyol, Real Madrid dengan skor telak 5-0 merupakan suatu pencapaian manis skuad Barcelona, sekaligus mengulangi prestasi 17 tahun lalu saat Romario dkk mencukur sang lawan dengan skor sama dan tempat yang sama. Kala itu, Barcelona yang dibesut Johan Cruyff, sang penyembah Total Voetbal memporakporandakan Real Madrid lewat gelontoran gol dari Romario, Ronald Koeman dan Ivan Iglesias. Bahkan, pelatih Barcelona saat ini yaitu Josep 'Pep' Guardiola kala itu bermain sebagai gelandang tengah bagi skuad Los Cules.

Layaknya hajatan besar, pertandingan El Classico ke 116 ini digelar pada hari Senin malam atau Selasa dini hari WIB, waktu yang agak tidak lazim mengingat pasti rakyat Spanyol telah menantikan pertarungan antar orang-orang terhebat dalam urusan kulit bundar di muka bumi. Betul. Laga sarat emosi tersebut dimulai dari insiden pendorongan Cristiano Ronaldo terhadap Pep Guardiola hingga tamparan Sergio Ramos kepada 2 sahabatnya di timnas Spanyol yakni Carles Puyol dan Xavi Hernandez yang telah emosi setelah dirinya di kartu merah wasit karena melanggar keras Lionel Messi. Hal tersebut menjadi begitu lazim mengingat pertandingan ini bukanlah pertandingan sembarangan. Ini telah menyangkut harkat dan martabat yang telah turun temurun diwariskan oleh legenda kedua klub.

Superiotas Los Merengues, julukan Real Madrid yang notabene belum terkalahkan di semua laga musim ini seakan lenyap begitu saja jika melihat cara mereka bermain yang jika dalam bahasa Indonesia yang ejaannya-tidak-disempurnakan yakni dikadal-kadalin. Bagaimana tidak? Hampir 600 passing dilancarkan Barcelona demi menyuguhkan permainan indah yang selama ini mereka kerap pertontonkan, ditambah statistik penguasaan bola yang menunjukkan mereka menguasai bola sebanyak kurang lebih 67% di sepanjang gila. Fantastis. Hal yang nyaris tidak mungkin tidak mungkin dilakukan menghadapi tim sekaliber Real Madrid yang diasuh Jose Mourinho. Hal tersebut bahkan diakui Mou - panggilan akrab Jose Mourinho - "Saya belum pernah kalah dengan skor sebanyak ini (5-0), namun kami memang berhak mendapatkannya. Kami bermain begitu buruk, sedangkan mereka begitu fantastis,"begitulah ujarnya. Ada beberapa kunci mengapa Barcelona terlihat begitu superior kala menghancurkan Real Madrid:

1. Ball possession. Jika digambarkan dengan indeks prestasi, mungkin secara kumulatif skuad Barca memiliki nilai cum laude, terutama trio gelandang Busquets-Xavi-Iniesta. Tidak perlu dijelaskan lagi betapa indahnya melihat mereka bertiga menguasai lini tengah. Xavi dengan indah mengorkestrasi timnya, Iniesta berdansa diantara Sami Khedira, Xabi Alonso, dan bek-bek Madrid, sementara Busquets secara elegan menjaga keseimbangan lini tengah dengan permainan tenang nan ekslusif. Tak ayal jika mereka menguasai ball possession hingga 67% karena begitu leluasanya 3 gelandang ini mendikte permainan. Tiki taka biasa disebutnya permainan indah ini. Hampir tidak pernah pemain Real Madrid memegang bola selama lebih dari 20 menit. Kendali selalu dipegang Barcelona dengan ball possession yang menakjubkan antar lini.

2. Mental. Inilah gelaran El Classico pertama bagi nama-nama macam Ricardo Carvalho, Sami Khedira, Mesut Ozil, Angel Di Maria. Mereka merupakan pemain yang handal di posisinya, no doubt about it. Tapi jika sudah menginjak rumput Nou Camp dan harus menghadapi sang pemilik rumah anda harus menomorduakan teknik, mental mengambil alih performa di lapangan. Berbeda dengan Xavi, Puyol, Messi, dkk (kecuali David Villa) yang sebelumnya telah fasih dengan laga ini. Terlihat perbedaan yang mencolok dari sisi olah bola, lihat saja Xavi dengan 110 passingnya (Xavi sendiri) mampu mendistribusikan bola ke semua lini dengan mudahnya. Di Madrid praktis hanya Iker Casillas dan Sergio Ramos yang telah menjalani partai El Classico lebih banyak diantara rekam setimnya. Namun Ramos pula lah yang mengacaukan pertandingan dengan kartu merah yang diterimanya di akhir laga dan tamparan kepada Carles Puyol dan Xavi.

3. Gol cepat. Pep tahu betul bagaimana meruntuhkan moral tim sekelas Real Madrid, setelah melakukan pressing ketat di menit - menit awal, mereka berhasil memancing keluar pertahanan Madrid dan berhasil menggolkan gawang Iker Casillas 2 kali dalam tempo 20 menit. 3 dari 5 gol yang tercipta Madrid saya ingat terjadi berkat umpan terobosan diagonal yang hampir mirip prosesnya, yakni gol Xavi dan 2 gol David Villa semua diawali umpan terobosan tajam nan terukur dari lini tengah Barca. Karena di lapangan Alonso dan Khedira tidaklah berdiri sejajar, Alonso bermain lebih dalam dan 4 bek Madrid memainkan offside trap sehingga memaksa mereka naik hingga seperempat lapangan. Maka jalan yang ditempuh Barca dengan melancarkan umpan diagonal sangatlah tepat, karena jika mereka masih menggunakan fungsi Villa dan Pedro sebagai winger, bek Madrid akan mudah menjebak mereka masuk ke posisi offside.

4. Pemilihan pemain. Banyak yang mengkomparasi tipe permainan Madrid dengan Internazionale besutan Mou ketika mereka menaklukkan Barca di Liga Champions musim lalu. Kali ini Mou gagal dengan pragmatisnya. Skuad pilihannya kali ini agak kurang tepat, karena kali ini ia gagal memaksimalkan lini tengahnya. Inter memiliki gelandang destroyer macam Thiago Motta, Esteban Cambiasso, Javier Zanetti yang telah mengenal gaya permainan Lionel Messi dengan sangat baik. Motta pernah bermain dengan Messi selama hampir 3 musim, sedangkan Zanetti dan Cambiasso adalah rekan Messi di timnas Argentina. Sudah 5 laga El Classico sejak Pep menangani Barca pertama kali dan ia banyak memainkan Messi sebagai penyerang tengah yang lebih sering turun ke lini tengah, bukan sebagai winger, posisi natural Messi. Sengaja demi mengelabui taktik musuh, Pep memainkan skema ini. Messi akan lebih banyak menusuk lewat tengah dengan posisi tersebut, dan kali ini Mou kurang jeli dengan hanya memainkan Alonso dan Khedira sebagai pendobrak gerakan Messi. Lassana Diarra kemudian dimasukkan dan skema berubah menjadi 4-3-3, namun tetaplah tidak efektif untuk mengamankan pergerakan Messi, bahkan Barca malah menambah 3 gol di babak kedua. Pemilihan pemain yang kurang tepat, Mou.

Setidaknya Jose Mourinho masih memiliki waktu hingga 17 April 2011 untuk bekerja keras memulihkan luka publik Madrid atas kekalahan ini dan membalasnya di Santiago Bernabeu nanti. Kita nantikan!

Senin, 22 November 2010

Indonesia dan Arema nya


Mungkin kita, pecinta sepakbola di tanah air akan sangat kecewa dengan keegoisan stasiun televisi berlambang rajawali yang lebih memilih menayangkan aktris Jasmine Wildblood dkk yang berakting di sinetron dibanding laga persahabatan Indonesia menghadapi saudara muda kita, Timor Leste. Indonesia memang menang 6-0 dalam laga tersebut, namun kita sungguh kecewa karena hanya dapat menyaksikan cuplikan gol per gol via highlight. Alfred Riedl untuk pertama kalinya menurunkan duet pemain naturalisasi, Cristian 'El Loco' Gonzales asal Uruguay dan Irfan Bachdim yang sebelumnya berpaspor Belanda. El Loco yang selama bermusim - musim, entah berapa musim telah menjadi top skor liga Indonesia sejak bermain di PSM Makassar hingga terakhir sebagai punggawa Persib Bandung berhasil mencetak 2 gol. Padahal, sebelumnya ia mengatakan tidak mempunyai ambisi untuk mencetak gol. Memang naluri tidak bisa dibohongi. Sedangkan, 4 gol lain disumbang oleh Muhammad Ridwan, Oktovianus Maniani, Bambang Pamungkas, dan Yongki Aribowo.

Yang patut digarisbawahi dari skuad baru Indonesia yang dipersiapkan menghadapi Piala AFF 2010 ini adalah banyaknya muka baru yang bakal mengenakan kaos timnas. Sebut saja Zulkifli Syukur, Beny Wahyudi, Ahmad Bustomi, Oktovianus Maniani, Yongki Aribowo, Kurnia Meiga, Dendi Santoso, dan tentu 2 warga 'asing' Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim. Menarik menyaksikan pemain asal Arema Indonesia yang mendominasi pemilihan skuad Garuda. Sebelumnya mungkin kita kurang akrab dengan nama - nama seperti Zulkifli Syukur, Beny Wahyudi, Ahmad Bustomi, Dendi Santoso, Kurnia Meiga, dan Yongki Aribowo. Nama yang disebut terakhir memang belum terdaftar sebagai pemain Arema Indonesia saat mereka merengkuh gelar juara musim lalu, namun untuk nama - nama sebelumnya, mereka telah berhasil membuktikan bahwa bakat mereka begitu bagus untuk hanya sekedar menjadi pengangguran kala tim nasional berlaga.

Indonesia, atau mungkin lebih tepatnya Alfred Riedl, mungkin harus mengucapkan terima kasih kepada Robert Rene Alberts, pelatih Arema Indonesia yang sukses mengorbitkan bakat - bakat tersebut sehingga mampu memberikan kontribusi maksimal bagi Arema musim lalu. Mungkin kita tidak akan mendengar nama - nama tersebut jika saja Alberts tidak menggunakan pemain tersebut sepanjang musim 2009/2010. Belum lagi Kurnia Meiga yang terpilih sebagai pemain terbaik Djarum Indonesia Super League musim lalu. Jika saya tidak salah, inilah kali pertama gelar tersebut jatuh ke tangan penjaga gawang. Alberts juga sebenarnya berhasil 'mengapungkan' nama bakat - bakat lain, selain nama yang telah disebut di atas, sebut saja Juan Revi, Muhammad Fakhrudin, Purwaka Yudhi, Irfan Raditya, Ronni Firmansyah, dan sederet bakat - bakat lain yang menjadi perhatian Alberts kala menangani Arema Indonesia. Mereka memang belum mendapat panggilan membela timnas, tapi mereka bukanlah pemain yang sekedar memenuhi kuota skuad. Cara yang dilakukan Alberts dengan memadukan nama - nama tersebut dengan nama senior macam Pierre Njanka (Kamerun), Esteban Guillen (Uruguay) dan duo Singapura Mohammed Ridhuan dan si bengal Noh Alam Shah terbukti manjur. Sinar pemain binaan Arema tersebut bukan makin tertutup oleh skill mentereng pemain asing, justru menjadi lecutan untuk bermain lebih baik di setiap pertandingannya dan menjadi panutan yang baik dalam bermain. Leading by example. Dengan mengesampingkan isu bahwa Arema musim lalu 'diberi' juara oleh BLI, karena Arema tidak menggunakan APBD dalam pembiayaannya, mereka memang tampil menawan. Arema menunjukkan model tim sepakbola modern yang sering kita lihat di liga - liga Eropa, organisasi permainan yang terstruktur, suporter yang tidak rusuh, manajemen yang efektif dan efisien, skuad yang tidak sering mengalami pergantian, dan penggunaan homegrown players.

Inilah yang mungkin diharapkan dari pecinta sepakbola tanah air, wajah segar yang mengenakan kaos timnas, tidak melulu kita melihat Ponaryo Astaman yang penampilannya mengalami penurunan, atau posisi bek kiri yang sering dihuni Isnan Ali, juga akhirnya Bambang Pamungkas setidaknya lega memiliki pelapis muda macam Dendi Santoso dan Yongki Aribowo. Semoga Alfred Riedl dan 11 Garuda lain dapat berbicara banyak di Piala AFF, setidaknya mampu lolos dari grup yang terbilang sulit, karena tergabung dengan raja AFF Cup, Thailand dan si tetangga menyebalkan, Malaysia. Juara adalah kata yang agak janggal bagi sepakbola Indonesia, tapi bukan tidak mungkin dan begitu indahnya predikat tersebut mampu kita rengkuh Desember nanti.

Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang...

Kamis, 09 September 2010

Superbia in Praelia


Langkah Manchester City mendatangkan pemain bintang di awal musim sempat menuai berbagai pro dan kontra. Banyak yang menganggap mereka telah merusak nilai-nilai dasar sepakbola sebagai olahraga dengan segala elemen humanitasnya. Namun, sang pemilik, si raja minyak dari Dubai, Sheikh Mansour seakan memakai kacamata kuda dan tanpa tedeng aling tetap menggelontorkan jutaan poundsterling demi membangun tim yang dipersiapkan sebagai pesaing the Big Four.

Jerome Boateng, Yaya Toure, David Silva, Mario Balotelli, James Milner, adalah nama-nama yang didatangkan pada musim panas kali ini. Padahal Manchester City sebelumnya telah memiliki nama besar lainnya macam Carlos Tevez, Emmanuel Adebayor, Kolo Toure, Nigel De Jong, dll, tapi sang pemilik merasa nama-nama itu belum cukup "besar" untuk memenuhi ambisinya membawa Manchester City menembus Liga Champions. Belum lagi talenta-talenta asli Inggris yang menghiasi skuad Roberto Mancini seperti Joe Hart, Micah Richards, Joleon Lescott, Wayne Bridge, Gareth Barry, Shaun Wright-Phillips, Adam Johnson, dan terakhir James Milner.

Nama-nama yang belakangan disebut merupakan hampir setengah dari jumlah keseluruhan skuad tim nasional Inggris. Bahkan pada saat pertandingan Inggris melawan Swiss pada kualifikasi Piala Eropa 2012, terhitung 6 pemain terpilih sebagai tim inti Three Lions, dan lebih istimewanya lagi, winger mereka, Adam Johnson berhasil menyarangkan 1 dari 3 gol kemenangan Inggris malam itu. Minus Wayne Bridge dan Micah Richards yang tidak diikutsertakan Don Fabio, Manchester City merupakan tim yang paling banyak menyumbangkan pemainnya kepada tim nasional Inggris.

Jadi, masihkan Manchester City menjadi musuh utama publik Inggris?

Selasa, 10 Agustus 2010

8 Pemain Berbahasa Spanyol di Setan Merah


Manchester United merekrut Javier 'Chicharito' Hernandez dari Chivas Guadalajara dengan bandrol 6 juta poundsterling. Jumlah yang dianggap Sir Alex Ferguson cukup murah. Sir Alex menganggap harga Chicharito dipastikan akan melambung setelah Piala Dunia 2010 mengingat penampilannya yang apik, terlebih ia juga menciptakan 2 gol saat Meksiko mengalahkan Prancis 2-0 di fase grup dan ketika Meksiko dihajar Argentina 4-1 di perdelapan final.

Javier 'Chicharito' Hernandez adalah pemain berbahasa Spanyol ke-8 yang pernah direkrut Sir Alex di era Premiership. Sebelumnya telah ada 7 pemain yang telah membela panji Setan Merah. Berikut ulasannya:

1. Diego Forlan. 2 golnya ke gawang ke Liverpool pada musim 2002/2003 adalah prestasinya paling legendaris. Ia pernah dijuluki Diego For'Loan' saking mandulnya. Hingga ketika ia mencetak gol pertamanya bagi United, komentator pertandingan kala itu berteriak: 'Hallelujah!'. Setelah meninggalkan United, ia berlabuh di Villareal sebelum hijrah ke Atletico Madrid. Prestasi tertingginya adalah ketika ia menyabet gelar Golden Ball di Piala Dunia 2010 dengan torehan 5 golnya dan berhasil membawa Uruguay duduk di peringkat 4.


2. Juan Sebastian Veron. Playmaker plontos yang memiliki visi permainan kelas atas.
Diboyong dari Lazio dengan bandrol 28 juta poundsterling. Ia harus bersaing dengan Nicky Butt, Roy Keane, Paul Scholes, dan bahkan Phil Neville kala itu. Sempat mempersembahkan trofi Liga Inggris pada musim 2002/2003. Ketika Roman Abramovich datang ke Inggris dan mengakuisisi Chelsea, Seba -panggilan akrab Veron- langsung masuk daftar belanja the Roman Emperor. Ia dilego ke Chelsea. Lalu malang melintang ke Inter Milan, hingga pulang kampung dan bermain untuk Estudiantes La Plata. Sempat juga tampil di Piala Dunia 2010 di usianya yang ke-35.


3. Ricardo Lopez. Namanya kurang mentereng. Kalah bersaing dengan Fabien Barthez kala itu. Namun, satu penyelamatan penaltinya saat debut melawan Blackburn tentu diingat sebagai salah satu 'persembahan'nya bagi United. Kini bermain untuk Osasuna.


4. Gabriel Heinze. Bek sangar asal Argentina yang langsung mencetak gol di pertandingan debutnya kala United jumpa Bolton Wanderers di musim 2004/2005. Ia kemudian dilego ke Real Madrid saat Patrice Evra mulai mengkudeta posisinya di bek kiri pertahanan United. Namun, posisinya di Argentina tidak tergantikan. Ia bermain di 4 pertandingan yang dijalani Argentina di Piala Dunia dan mencetak 1 gol ke gawang Nigeria di Piala Dunia 2010. Heinze bermain untuk Marseille di Ligue 1.


5. Carlos Tevez. Sang Apache dicap pengkhianat oleh fans United karena ia menyeberang ke Eastlands. Namun, kombinasinya dengan Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo di musim 2007/2008 sukses memberikan double bagi United, yakni Liga Inggris dan Liga Champions. 'Who's that twat from Argentina?' Begitulah kira-kira publik Mancunian menyebutnya kini.


6. Gerard Pique. Atletis, gaya permainan yang elegan, didukung jenggot tebal yang sudah sangat cukup membuat para wanita rela bangun malam untuk menyaksikannya beraksi saat Piala Dunia 2010 berlangsung. Itulah yang terjadi ketika ia telah bermain bagi Barcelona. Saat masih menjadi reserve di United, Pique hanya menjadi pemain spesialis pinjaman, karena duet Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic kala itu sedang pada puncak permainannya. Ia direkrut kembali oleh klub semasa kecilnya, Barcelona dan bertransformasi menjadi salah satu bek terbaik di dunia saat ini.


7. Luis Antonio Valencia. Sayap kanan klasik. Memiliki dribel dan umpan silang yang mematikan. Ialah kunci sukses mengapa Wayne Rooney begitu produktif musim lalu, dan Rooney pun secara eksplisit menyebutnya sebagai pemain yang turut memiliki andil pada 34 golnya musim lalu. Winger yang berperawakan dingin ini direkrut dari Wigan Athletic seharga 26 juta poundsterling dan diproyeksikan sebagai pengganti Cristiano Ronaldo yang hijrah ke Real Madrid pada musim 2009/2010.

Rabu, 21 Juli 2010

Liverpool Di Bawah Panji Britania

18 trofi Liga Inggris, 5 trofi Liga Champions, 7 trofi Piala FA, 7 trofi Piala Liga, dan masih banyak lagi gelar prestisius yang diraih oleh Liverpool. Kita tentu tahu betapa digdayanya klub asal grup musik The Beatles ini pada medio 1970an dan 1980an. Mereka seakan menjadi raja baik di tanah Britania maupun di Eropa.

Di kala jayanya, Liverpool memiliki pelatih bertangan dingin macam William 'Bill' Shankly dan suksesornya, Bob Paisley. Di bawah kendali kedua pelatih ini Liverpool mampu dengan mudah mendulang trofi demi trofi ke Anfield, markas mereka. Bill Shankly, pelatih kawakan asal Skotlandia, kala itu ditunjuk untuk memperbaiki prestasi Liverpool yang sempat terpuruk pada tahun 1950an. Mereka tenggelam di bawah bayang - bayang rival abadinya, Manchester United, dan tim lain macam Leeds United, Tottenham Hotspur, dan Everton. Di bawah kendali Bill, Liverpool berhasil meraih 3 gelar trofi Liga Inggris, dan 1 trofi Piala FA. Namun, keistimewaan Bill adalah hubungannya dengan suporter Liverpool. Ia berhasil meraih hati para fans dan ia jugalah yang meletakkan pondasi awal kejayaan Liverpool.

Sepeninggal Bill Shankly, yang mundur pada 1974, manajemen Liverpool kala itu menunjuk Bob Paisley sebagai penggantinya. Pelatih berperawakan gempal ini langsung 'tancap gas'. Di musim pertamanya ia langsung merebut gelar juara Liga Inggris dari tangan Derby County yang dilatih Brian Clough, pelatih legendaris Inggris. Dan setelah itu Liverpool berhasil menjuarai kompetisi paling bergengsi di Eropa, yakni Liga Champions sebanyak 3 kali di bawah Bob Paisley (1977, 1978, 1981) dan Piala Eropa(UEFA Cup, atau sekarang lebih dikenal dengan Europa League) pada 1984. Ini adalah prestasi fenomenal bagi klub Inggris mengingat mereka kerap tenggelam di bawah raksasa Eropa macam Ajax Amsterdam, Bayern Munchen, dan Juventus.

Kita kembali ke masa sekarang. Masa dimana Liverpool tidak lagi merajai Inggris. Masa dimana Liverpool belum pernah meraih lagi trofi Liga Inggris sejak 20 tahun silam. Namun, secercah asa tentu boleh dikibarkan jika melihat pergerakan Liverpool di bursa transfer musim panas ini. Pelatih asal Spanyol, Rafael Benitez dipecat, kemudian digantikan oleh Roy Hodgson, pelatih yang sukses mengantar Fulham hingga final Europa League musim lalu. Kemudian Liverpool sukses mendaratkan Joe Cole yang berstatus bebas transfer setelah dilepas Chelsea akhir musim sebelumnya, juga Milan Jovanovic gelandang asal Serbia. Dan rekrutan Britania lainnya macam Jonjo Shelvey, Danny Wilson yang disebut - sebut sebagai The New Alan Hansen.

Sukses Liverpool di era 1970an dan 1980an ditentukan oleh punggawa - punggawa asal Britania Raya macam Kevin Keegan, Ray Clemence, Phil Thompson, Terry McDermott yang berasal dari Inggris Raya, Kenny Dalglish dan Graeme Souness yang berasal dari Skotlandia, dan Ian Rush yang berasal dari Wales.

Akankah Liverpool kembali berjaya dengan konten Britania nya?

Selasa, 13 Juli 2010

10 Hal Yang Bikin Kita Tidak Bakal Melupakan Piala Dunia 2010

Pesta sepakbola paling megah itu telah usai. Kita harus berdoa kepada Tuhan agar diberikan umur setidaknya hingga 4 tahun ke depan untuk kembali menyaksikan ajang terbesar di jagat raya yakni Piala Dunia. Piala Dunia 2010 memang telah berakhir, namun tentu masih banyak hal-hal yang dapat kita kenang dari perhelatan 4 tahun sekali tersebut. Saya mencoba mengumpulkan 10 hal yang membuat kita akan mengenang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

10. Jabulani dan Vuvuzela
Bola resmi Piala Dunia 2010 keluaran Adidas ini awalnya sempat menimbulkan kontroversi lantaran performanya yang kurang memuaskan. Bahkan, banyak yang menganggap Jabulani adalah bola terburuk sepanjang masa. Jabulani sendiri berasal dari bahasa Zulu yang berarti merayakan.

Terompet khas Afrika Selatan yang bunyinya lebih mirip sekumpulan lebah ini sungguh meresahkan penonton pada awal penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Namun, seiring berakhirnya Piala Dunia, kita juga akan merindukan bunyi nyaring yang ditimbulkan Vuvuzela di setiap pertandingan yang kita saksikan.

9. Air Mata Jong Tae-se
Striker timnas DPR Korea ini secara emosional menangis ketika menyanyikan lagu kebangsaannya sebelum pertandingan melawan Brazil. Pure nationalism. Meski akhirnya DPR Korea tersingkir di penyisihan grup, tangisan Jong merupakan highlight dari penyelenggaraan Piala Dunia kali ini.

8. Pulangnya finalis Piala Dunia 2006
Prancis dan Italia bertemu...di bandara. Begitulah jokes yang banyak dilontarkan khalayak setelah melihat kegagalan 2 finalis Piala Dunia edisi sebelumnya ini lolos dari babak penyisihan grup. Jika Prancis tersingkir lantaran dilanda konflik internal, maka sang 'kawan' tersingkir lebih karena kegagalan sang pelatih, Marcelo Lippi memilih pemain yang cocok untuk membela juara dunia 2006 tersebut. Banyak pemain yang justru tidak berkontribusi banyak seperti Simone Pepe, Federico Marchetti, Alberto Gilardino, dan bahkan Andrea Pirlo yang baru tampil pada pertandingan ke-3. Well, setidaknya Riccardo Montolivo baru akan berusia 29 tahun 4 tahun lagi.

7. Swiss 1 Spanyol 0
Kejutan yang pertama kali terjadi di babak penyisihan grup. Kedigdayaan juara Eropa, Spanyol 'digoyang' lewat gol semata wayang Gelson Fernandes. Pasar taruhan pun sedikitnya terkena dampak dari kekalahan Spanyol ini. Tapi kita akhirnya tahu siapa yang tertawa pada akhir turnamen.

6. Panser Muda Membabat Inggris dan Argentina dengan 4 gol
Inggris, si tim pesakitan yang selalu jadi favorit juara dan Argentina, tim yang mengumpulkan 9 poin di babak penyisihan grup. Keduanya luluh lantak seketika saat mereka bertemu Jerman. Dimotori Mesut Ozil, Bastian Schweinsteiger, Sami Khedira, Miroslav Klose dkk, Jerman berhasil melibas kedua tim tersebut keduanya dengan 4 gol bersarang di gawang musuh. Jerman menghancurkan Inggris 4-1 yang-seharusnya 4-2 jika saja wasit Jorge Larrionda asal Uruguay mengesahkan tendangan Frank Lampard yang secara kasat mata telah melewati garis gawang Manuel Neuer. Saya tidak akan membahas lebih panjang apalagi berbicara mengenai berita tentang rencana FIFA mengulang pertandingan tersebut yang jelas-jelas tidak akan terjadi di dunia manapun.

Pemain terbaik dunia tahun 2009, Lionel Andres Messi ternyata tidak mampu membantu negaranya Argentina untuk mengalahkan Jerman. Argentina tidak berkutik menghadapi Jerman yang tampil trengginas, terlebih Bastian Schweinsteiger yang menjadi momok bagi Messi sekaligus bagi Javier Mascherano di lini tengah, karena Schweini-panggilan Schweinsteiger sukses mengunci pergerakan Messi dan juga dengan mudahnya menerobos pertahanan Argentina. Ozil, adalah nama lain yang menjadi buah bibir setelah permainan gemilangnya di fase grup.

5. Ghana
Sang penyelamat muka Afrika. Mereka berhasil mengikuti langkah Kamerun di Piala Dunia 1990 dan Senegal di Piala Dunia 2002 dengan menjejakkan kaki di perempat final. Meski akhirnya takluk dari Uruguay lewat drama adu penalti, tapi rakyat Afrika setidaknya bisa berbangga hati karena salah satu wakilnya mampu berbicara banyak. Dan mereka tentu akan mempunyai musuh baru, yakni Luis Suarez.

4. Diego Forlan, sang penakluk Jabulani
Ronaldo, Messi, Kaka pun seharusnya tercenung melihat apa yang dilakukan Forlan di Piala Dunia kali ini. Karena di luar dugaan Forlan sukses 3 kali menjebol gawang musuh lewat tendangan kerasnya dari luar kotak penalti. Saya rasa ia adalah peraih Golden Ball atas kegemilangannya menaklukkan Jabulani, bukan atas pencapaian 5 golnya.

3. Kiper terbaik Piala Dunia 2010, Luis Suarez

Ghana bisa saja lolos ke semifinal, jika 'kiper kedua' Uruguay, Luis Suarez tidak menepis bola yang sudah di mulut gawang. Ghana kemudian berpeluang mencetak gol lewat tendangan penalti. Namun, Asamoah Gyan yang pada fase grup mencetak 2 gol lewat titik putih, kali ini harus bertemu kesialannya, karena penaltinya mengenai mistar dan gagal memberi kemenangan untuk Ghana yang telah di depan mata. Suarez, yang sebelumnya menangis tersedu karena kebodohannya, langsung bersorak girang melihat Asamoah Gyan gagal memanfaatkan penalti. FIFA seharusnya memberikan Lev Yashin Award kepada Luis Suarez...

2. Gol pamungkas si mungil, Andres Iniesta
Rakyat Spanyol dibuat ketar-ketir oleh permainan keras Belanda, hingga pada menit 116 satu sepakan half-volley Iniesta melesak keras ke kanan gawang Maarten Stekelenburg dan sepakan tersebut bisa jadi adalah sepakan paling bersejarah dalam persepakbolaan Spanyol, karena ia berhasil membawa Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya lewat golnya tersebut. Pahlawan.

1. Paul The Octopus

Tidak perlu penjelasan lebih lanjut :P

Senin, 05 Juli 2010

Ada Apa Dengan Argentina?



9 poin dari 3 pertandingan. Mencetak 7 gol dan hanya kemasukan 1 gol sepanjang babak penyisihan grup. Sungguh menakutkan bukan Argentina? Seharusnya, ya. Jangankan dari perolehan gol atau poinnya, jika melihat barisan depannya saja sudah membuat lawan 'jiper'. Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Carlos Tevez, Sergio 'Kun' Aguero, Diego Milito, dan Martin Palermo. Ibarat senapan, Argentina dirasa-rasa tidak akan kehabisan amunisi untuk memborbardir lawan jika memiliki ujung tombak macam mereka.

Kemenangan 3-1 atas Meksiko di perdelapan final seakan mengulang perjalanan mereka di Piala Dunia 2006 yakni menang atas Meksiko dan jumpa Jerman di perempat final. Dan hasilnya pun juga 'terpaksa' harus berulang juga. Argentina berada di sisi kalah. Hanya saja jika 4 tahun lalu, tim Tango harus berjibaku dengan Jerman hingga adu penalti, kali ini mereka langsung rontok di waktu normal. 4-0. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai skor ini. Sesak, sedih, kesal, emosi bisa jadi campur aduk menjadi satu untuk para fans-fans Argentina. Terlalu menyedihkan bahkan.

Saya mencoba merumuskan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Argentina. Juara dunia 2 kali ini hanya menjadi bulan-bulanan Panser Muda Jerman. Sekali lagi Diego Maradona harus rela dikalahkan Jerman, seperti apa yang terjadi di final Piala Dunia 1990. Berikut hal-hal yang dianggap menjadi penyebab Argentina hancur di tangan Jerman dan gagal di Piala Dunia:

1. Gelandang tengah. Mungkin saya juga akan pusing tujuh keliling jika harus memilih apakah harus memainkan Tevez atau Aguero, atau memilih antara Higuain dan Milito. Akan tetapi, sepakbola adalah permainan kolektifitas tim. Keseimbangan antara menyerang dan bertahan harus dijaga sebaik mungkin selama pertandingan. Dengan 4-3-3, Dios Diego Maradona memainkan Angel Di Maria dan Maxi Rodriguez sebagai gelandang (tengah). Suatu peran yang agak tabu mungkin bagi kedua pemain yang berposisi sayap dan bernaluri menyerang jika harus membantu merangkai serangan dan turun hingga ke jantung pertahanan. Tidak hadirnya Cambiasso bisa jadi krusial. Memang, belakangan diketahui bahwa Cambiasso tidak dipanggil lantaran berseteru dengan Juan Sebastian Veron. Anehnya, Diego tidak jua memainkan Veron di pertandingan melawan Jerman.

Mascherano yang berperan gelandang tengah, seakan 'ditinggal' sendirian di posisi tersebut, karena memang Di Maria dan Maxi tidak cocok bermain sebagai gelandang tengah. Veron mungkin akan lebih cocok bermain mendampingi Mascherano di tengah. Hasilnya? Scweinsteiger, Ozil, Khedira, trio gelandang Jerman ini bermain begitu bebas di area pertahanan Argentina. Sering sekali Argentina kecolongan melalui gol-gol serangan balik akibat terlambat turunnya 3 gelandang Argentina.

2. Ariel Garce. Nama bek Colon ini mungkin agak asing di telinga anda. Ya, memang. Ia dipanggil Diego Maradona lantaran sang pelatih bermimpi memenangkan Piala Dunia 2010 beberapa saat sebelum Piala Dunia dimulai. Dan di mimpinya Diego hanya mengingat nama Ariel Garce yang berada di skuadnya. Bagaimana dengan nama-nama seperti Pablo Zabaleta, Fabricio Coloccini, dan Javier Zanetti?

3. Kebobolan di menit awal. Tidak ada yang lebih 'menggoyang' mental bertandanding selain gol di menit-menit awal. Sejak dibobol Thomas Muller di menit ke-3, Argentina seakan kehilangan ritme permainan. Tiap pemain bermain individualistis, kecuali Messi yang memang selalu ingin menggiring bek-bek lawan untuk membuka ruang bagi Tevez dan Higuain. Belum lagi bek-bek yang begitu mudah dieksploitasi oleh barisan depan Jerman.

4. Diego Maradona bukan pelatih yang baik. Saya sepenuhnya percaya terhadap komentar Pele tentang Maradona yang ia anggap bukan pelatih yang baik. Maradona adalah legenda hidup Argentina, panutan anak-anak penggila sepakbola yang bermain di jalanan, bahkan Tuhan, sebuah gereja menganggap Diego Maradona adalah sosok yang pantas dipuja berkat sihirnya di lapangan hijau saat masih menjadi pemain. Namun, ketika berprofesi sebagai pelatih sepakbola lain ceritanya. Maradona tentu hanya menggunakan pengalamannya sebagai pemain untuk mengaplikasikan taktiknya di lapangan, ditambah dengan masukan-masukan dari asisten pelatih atau mungkin justru lebih banyak sang asisten yang memberi masukan bagi penampilan Lionel Messi dkk. Ia tidak sepenuhnya paham mengenai pola-pola permainan, terbukti dengan poin 1 pertama yang saya telah jelaskan. Pemain pun diseleksi secara random. 100 pemain telah dipanggil pada babak kualifikasi. Diego Maradona adalah legenda hidup. Cukup sebagai legenda hidup, el Dios!