Sabtu, 26 Juni 2010

Asia Rasa Lokal

Beberapa hari lalu saya melihat teman saya di situs microblog Twitter 'berkicau', "Jangan taruhan di Piala Dunia kali ini, skornya susah ketebak!". Kalau dirasa-rasa benar juga adanya. Siapa yang mengira 2 wakil Asia, Jepang dan Republik Korea lolos dari hadangan tim-tim kuat macam Nigeria, Yunani, Denmark, dan Kamerun? Nyatanya mereka mampu mengalahkan semua prediksi dan lolos ke babak 16 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002 yang berlangsung di rumah mereka sendiri.

Keberhasilan mereka mencapai babak kedua Piala Dunia kali ini tidak terlepas tangan dingin pelatih lokal mereka, yakni Takeshi Okada (Jepang) dan Huh Jung-Moo (Korea).



Takeshi Okada, pelatih yang juga membawa Jepang lolos ke Piala Dunia 1998 di Prancis ini kembali melatih tim Negeri Matahari Terbit sejak 2007 menggantikan Ivica Osim yang mundur dari kursi kepelatihan karena menderita stroke. Prestasi terbaiknya adalah ketika ia terpilih menjadi pelatih terbaik J-League musim 2003 dan 2004 menyamai pencapaian Arsene Wenger dan Osvaldo Ardiles, 2 pelatih legendaris yang juga pernah merasakan atmoster J-League pada medio 1990-an. Di Piala Dunia nya yang kedua kali ini ia memiliki 'senjata' macam Keisuke Honda yang telah membuktikan sebagai calon bintang Jepang di Piala Dunia kali ini, juga Yasuhito Endo, pemain terbaik Asia 2009, Marcus Tulio Tanaka, bek kelahiran Brazil yang selalu tampil spartan di setiap pertandingannya. Belum lagi nama-nama macam Makoto Hasebe, Daisuke Matsui, Takayuki Morimoto, Shunsuke Nakamura yang berhasil menancapkan kuku di liga-liga Eropa. Dengan modal pemain-pemain macam mereka, rasanya bukan tidak mungkin Nippon mampu membuat sejarah baru, yakni lolos ke perempat final Piala Dunia. Tapi, jangan lupa, masih ada La Albirroja Paraguay yang siap menghadang langkah mereka.



Setelah bertahun-tahun sepakbola Korea 'dijajah' oleh meneer-meneer Belanda, kali ini mereka mencoba peruntungan dengan menunjuk pelatih lokal, Huh Jung-Moo. Jika berbicara prestasi Korea di Piala Dunia, rasanya kita akan selalu ingat tahun 2002 saat mereka berhasil menembus semifinal setelah menumbangkan raksasa Eropa, Italia dan Spanyol. Guus Hiddink dianggap dewa di Negeri Ginseng tersebut. Lalu, seakan-akan tersihir oleh sentuhan tangan dingin Hiddink, Korea mempercayakan tampuk kepelatihan ke Dick Advocaat dan Pim Verbeek. Namun keduanya gagal mengulangi pencapaian Hiddink yakni menembus 4 besar Piala Dunia. Kini, di tangan Huh Jung-Moo, Korea mampu lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2010. Pelatih yang terkenal dengan tendangan taekwondo nya ke paha Diego Maradona di Piala Dunia 1986 itu mampu mengembalikan kepercayaan diri Ksatria Taeguk dan bersama Park Ji-Sung, Park Chu-Young, Lee Chung-Yong dkk mereka berkesempatan mengulangi prestasi 2002, yakni menembus 4 besar Piala Dunia. Namun, Uruguay berdiri kokoh untuk menghalangi ambisi mereka tersebut.

Rasa lokal tidak terlalu buruk kan?

Senin, 21 Juni 2010

Piala Dunia, Kejutan dan Kebanggaan



Saya menulis ini hanya beberapa menit setelah pertandingan antara Portugal melawan DPR Korea yang berakhir dengan mengenaskan untuk DPR Korea, 7-0. Namun saya tidak akan membahas / dikejar deadline untuk menyerahkan laporan pertandingan.

Saya sedang terkagum-kagum dengan Piala Dunia ini. Betapa tidak, di tiap grup telah terjadi peristiwa-peristiwa mengejutkan. Mulai dari tumbangnya Prancis dari Meksiko di grup A, Republik Korea mampu mengalahkan juara Eropa 2004 pada partai perdananya di grup B. Di grup C dan D Inggris dan Jerman belum mampu tampil konsisten padahal keduanya merupakan favorit untuk menjadi juara pada perhelatan kali ini. Sementara Jepang dan Selandia Baru berhasil muncul diantara gempitan raksasa seperti Belanda dan Italia di grup E dan F. Dan 2 kejutan paling pamungkas hadir datang dari DPR Korea dan Swiss. DPR Korea, tim misterius dari Asia Utara ini mampu bermain tanpa dosa saat melawan Brazil di pertandingan pertama. Brazil hanya mampu menang dengan margin 1 gol. Sebuah prestasi? Tentunya. Terlebih bagi negara berperingkat FIFA terendah di Piala Dunia 2010 ini. Kemudian, di grup H, Swiss menggulingkan Spanyol di pertandingan pertama. Berita menggemparkan yang kemudian membuat editor media-media cetak memasang tulisan mencengangkan, karena salah satu favorit juara, Spanyol takluk 1-0. Kejutan, kejutan, dan kejutan.

Ya, Piala Dunia memang identik dengan kejutan. Ibaratnya, kejutan adalah bumbu yang membuat Piala Dunia semakin menarik untuk ditonton, dan kita akan selalu 'ketagihan' untuk menunggu-nunggu kejutan apa lagi yang akan terjadi di Piala Dunia kali ini.

Kamerun dan Senegal pernah membuat sejarah dengan menjungkalkan Argentina dan Prancis yang notabene juara bertahan pada edisi 1990 dan 2002. Dunia seakan terbelalak. Tercengang. Afrika yang biasanya identik dengan busung lapar dan praktek perbudakan kini mulai dianggap salah satu kekuatan dalam peta sepakbola. Ghana, Nigeria, Afrika Selatan, Kamerun menjadi representatif dari benua hitam. Tapi sayang Kamerun harus menjadi tim pertama yang resmi tersingkir dari Piala Dunia 2010 ini. Mereka gagal bersaing dengan Belanda, Denmark, dan Jepang. Mungkin saja 4 tahun lagi kita akan menyaksikan tim nasional Ethiopia di layar kaca, berbaris menyanyikan lagu kebangsaan mereka dengan dada tegap dan wajah-wajah emosional sebelum bertanding. Ya, Ethiopia akan menjadi salah satu negara peserta Piala Dunia 2014 di Brazil, siapa yang tahu?

Adalah sebuah hal yang lazim jika semua tim ingin berprestasi dalam keikutsertaannya di Piala Dunia. Tidak ada cara lain untuk membayar perjuangan mereka selama kualifikasi selain berjuang mati-matian di setiap pertandingan. Kekuatan sepakbola makin terasa 'adil'. Brazil, Argentina, Spanyol, Jerman, tidaklah absolut. Karena tidak ada tim yang superior. Di pertandingan sebelumnya bisa saja tim tersebut bermain cemerlang, namun tidak ada yang menjamin mereka mampu mengulangi permainan cemerlang mereka di pertandingan berikutnya.

Piala Dunia adalah perjuangan. Martabat, harga diri bangsa dipertaruhkan. Di dada 11 pemain yang bertarung di lapangan melekat erat lambang supremasi sepakbola negara mereka. Ada suatu nilai yang tidak bisa dilecehkan, yaitu kebanggaan menggunakan lambang tersebut dan memperjuangkannya adalah perjuangan yang lebih berat lagi. Tidak ada negara yang mau mengalah. Tidak ada tim yang ingin pulang lebih awal.

Jumat, 04 Juni 2010

Inggris juara dunia, bisakah?


Adalah nama-nama seperti Bobby Moore, Geoff Hurst, dan Charlton bersaudara (Bobby dan Jack) yang berhasil memenangkan hati jutaan rakyat Inggris dengan menyabet trofi Jules Rimet (trofi lama Piala Dunia) setelah mengalahkan Jerman Barat dengan skor 4-2 lewat perpanjangan waktu. Dan hattrick Geoff Hurst kala itu merupakan salah satu momen terbaik yang pernah tercipta di stadion Wembley. Hingga kini, jutaan rakyat Inggris masih menanti-nanti momen tersebut akan terulang.

Kita percepat waktu hingga 44 tahun, dimana kita telah berada di tahun 2010 dan Piala Dunia (PD) akan kembali diselenggarakan FIFA dan bertempat di Afrika Selatan. Dan Inggris sekali lagi diunggulkan untuk meraih juara dunia bersama Brazil dan Spanyol. Apa pasalnya? Mereka akan diperkuat Wayne Rooney, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan John Terry yang merupakan pemain-pemain kelas atas dunia yang disejajarkan dengan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Franck Ribery, Kaka, dll. Dan mereka akan dilatih oleh Fabio Capello, pelatih dengan sederet gelar di curriculum vitae nya bersama AC Milan, Real Madrid, Juventus, dan AS Roma. Tentu sudah cukup untuk membuat lawan 'jiper'.

Saya mencoba merumuskan hal-hal yang harus Inggris lakukan untuk dapat menjadi juara dunia. Berikut ulasannya:

1. Wayne Rooney. Torehan 30 gol nya bersama Manchester United sangat diharapkan bisa terulang di PD 2010. Dan salah satu kunci banyaknya gol yang dicetak Rooney musim lalu adalah assist Antonio Valencia. Hampir dari setengah jumlah gol yang dicetak Rooney berasal dari umpan-umpan matang Valencia. Di timnas, tinggal bagaimana Fabio Capello memaksimalkan peran sayap-sayap Inggris untuk menyuplai Rooney dengan bola-bola yang matang dan siap dikonversi menjadi gol oleh Rooney.

2. Gelandang bertahan. Memiliki Steven Gerrard dan Frank Lampard dalam satu barisan lapangan tengah adalah sebuah anugerah, namun bisa juga menjadi sebuah bencana. Pasalnya keduanya merupakan gelandang-gelandang bertipe attacking midfielder, mereka lebih bernaluri menyerang, dan kurang cocok dimainkan sebagai gelandang bertahan. Kurang fitnya kondisi Gareth Barry membuat Don Fabio harus memutar otak untuk mendapatkan formula yang tepat menempatkan gelandang bertahan yang cocok dengan skema yang ia terapkan. Ada nama-nama seperti Michael Carrick, Tom Huddlestone, dan James Milner yang biasa berperan sebagai gelandang tengah di klubnya masing-masing.

Michael Carrick, gelandang bertahan MU ini memiliki visi permainan yang cemerlang, ia sering menemukan celah-celah tidak terduga bagi pemain lain. Namun kekurangannya adalah kecepatan, determinasi, dan sering melakukan blunder, sehingga Don Fabio pun akan berpikir ulang untuk memainkannya dalam pertandingan-pertandingan krusial.

Tom Huddlestone, memiliki tubuh tegap, dan fisik mumpuni sebagai gelandang bertahan. Passing-passingnya cukup akurat, namun minim pengalaman. Apa jadinya jika ia harus menghadapi gelandang-gelandang macam Kaka, Xavi, Bastian Schweinsteiger dll yang memiliki skill kelas atas dan berteknik tinggi tersebut?

James Milner, fisiknya kuat, petarung ulung. Hanya saja ia baru berperan sebagai gelandang tengah di paruh kedua musim lalu, yang bukan merupakan posisi aslinya. Ia diprediksi akan kesulitan memainkan peran gelandang bertahan yang diharapkan Fabio Capello karena ia belum pernah memainkan peran tersebut di bawah asuhan Don Fabio. Tapi, siapa yang tahu?

3. Adu penalti. Momok terbesar Inggris, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Inggris seringkali gagal karena harus memainkan pertandingan hingga adu penalti. Diantaranya PD 1990, PD 1998, dan PD 2006. Juga ajang lain seperti Euro 1996, dan Euro 2004.

4. Krisis kepemimpinan.
Sejak John Terry terjerat skandal, praktis rakyat Inggris kehilangan simpatinya terhadap kapten Chelsea tersebut. Pencopotan ban kapten pun tidak terelakkan. Dan naasnya, pemain yang didapuk sebagai kapten baru, Rio Ferdinand malah mengalami cedera di sesi latihan, dan terancam gagal meng-kapten-i Inggris di PD 2010. Sepeninggalnya, ban kapten diisukan akan disematkan ke Steven Gerrard, Wayne Rooney dan Frank Lampard. Namun berita ini menjadi kendala karena Inggris seakan kebingungan mencari sosok pemimpin di lapangan yang tepat.

5. Kiper.. Adakah dari nama-nama ini yang anda anggap sebagai kiper kelas dunia? : David James, Joe Hart, Robert Green. Ya, kenyataannya Don Fabio hanya memiliki 3 kiper 'lokal' ini untuk bisa membela Inggris di PD 2010.

6. Lawan besar. Saya tidak menggolongkan grup Inggris sebagai grup yang mudah, karena buktinya Slovenia, AS, dan Aljazair adalah tim-tim yang memiliki kolektivitas tinggi dan kerjasama tim yang apik. Namun, biasanya selepas fase grup dan berhadapan dengan lawan yang lebih besar dibanding fase grup, Inggris seakan kaget. Mereka 'dipaksa' memainkan sepakbola terbaik mereka. Lawan-lawan seperti Brazil, Argentina, Jerman, Spanyol adalah tim yang siap melakukannya untuk Inggris, tinggal bagaimana kesiapan Inggris menghadapi mereka.

7. Pemain cadangan.. Siapkah Matthew Upson, Tom Huddlestone, Shaun Wright-Phillips, Jermain Defoe, beserta pemain cadangan lain untuk membuktikan bahwa mereka layak memperkuat Inggris di kesempatan besar seperti PD?

Mereka memang layak menjadi juara, tapi bisakah?

Minggu, 30 Mei 2010

Piala Dunia = Lebaran


Setiap agama tentu memiliki hari raya / hari besarnya masing-masing. Tiap hari raya pasti dirayakan secara meriah oleh penganutnya. Mereka bakal berbaur dengan siapapun, bahkan yang bukan dengan keluarganya sekalipun, karena larut dalam euforia hari raya.

Piala Dunia (PD). Ajang sepakbola internasional paling ditunggu seantero dunia ini saya anggap adalah sebuah 'lebaran'. Lebaran / hari raya adalah hari yang begitu suci dan ditunggu. Kita tentu tau lagu lebaran (Idul Fitri) yang berlirik:

Baju baru...alhamdulillah
Tuk dipakai...di hari raya
Tak punya pun...tak apa-apa
Masih ada baju yang lama


Lirik lagu tersebut tentu menggambarkan betapa baju baru adalah suatu hal begitu sakral pada setiap lebaran. Entah mengapa tradisi tersebut sudah berlangsung turun temurun, khususnya bagi kalangan menengah ke atas. Jika di PD, semua tim peserta telah disediakan kostum baru oleh sponsor apparel mereka. Tujuannya selain bisnis, tentu secara falsafah akan membawa spirit tersendiri bagi tim yang menggunakannya. Meksiko pada PD '98 di Prancis bahkan menggunakan motif suku Aztec demi mendapatkan spirit para leluhurnya. Kostum baru juga pasti akan membawa semangat baru bagi pemain yang bertarung di lapangan. Kemudian, lebaran tidak hanya identik dengan baju baru. Yang paling sering kita lihat/alami dari lebaran tiap tahun adalah perayaannya yang begitu meriah. PD selalu disambut meriah dimanapun, bahkan hingga negara-negara yang tidak menyelenggarakan PD pun ikut memeriahkannya. Dari mulai acara nonton bareng hingga penjualan merchandise yang berbau PD.

Saya masih ingat betul pada saat PD 2006 di Jerman lalu, saya masih aktif menggunakan akun Friendster saya, yang (sejujurnya) teman-teman saya didominasi oleh kaum hawa :D . Di kolom 'who I want to meet' mereka diisi dengan pemain-pemain yang notabene belum terkenal pada saat itu, hanya bermodalkan tampang yang bisa meluluhkan iman mereka. Sebut saja Andrea Barzagli, Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Tranquillo Barnetta. Mereka disebut dalam kolom tersebut. Dan saya langsung berpendapat, kalo bukan karena PD, mereka ga bakal tau tuh pemain-pemain bola.

Tanpa PD, mana mungkin Brazil akan dipertemukan dengan Korea Utara. Mungkin bisa di pertandingan friendly, tapi gengsinya tentu jauh berbeda dibandingkan di PD. Mana mungkin Selandia Baru bertemu Italia, atau Belanda bertanding dengan Kamerun, Jerman beradu fisik dan otot dengan Ghana, kalau bukan dipertemukan oleh PD. Begitu juga lebaran, banyak dari kita yang sangat jarang bertemu sanak saudara yang kebanyakan berada di kampung halaman. Tapi karena lebaran, akhirnya kita dapat bertemu kembali setelah sekian lama, dan dapat saling berbagi kebahagiaan.

Nikmatnya sebuah silaturrahmi dalam skala yang begitu besar.

Jumat, 28 Mei 2010

Kisah Dongeng Los Galacticos


Memang unik jika kita berbicara mengenai si 'Putih' ini. Tim berlabel megabintang berlapis jutaan euro ini gagal meraih secuil tropi pun musim 2009/2010. Apa yang salah? Pasti itulah pertanyaan kita jika melihat pencapaian Real Madrid.

Sejak Florentino Perez kembali terpilih menjadi presiden Real Madrid, ia dengan pasti akan membangun Los Galacticos jilid II. Berkaca pada kesuksesan Los Galacticos jilid I yang dihuni Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, David Beckham dll, ia memiliki keyakinan bahwa proyek besarnya ini akan kembali mendulang sukses. Sebagai langkah awal, ia merekrut Manuel Pellegrini, pelatih asal Cile yang memiliki filosofi permainan dengan mengandalkan passing-passing pendek dari sisi ke sisi permainan, yang sukses ia terapkan di Villareal selama kurang lebih 4 musim. Lalu, perekrutan jor-jorannya menyusul. Raul Albiol, Alvaro Arbeloa, Xabi Alonso, Cristiano Ronaldo, Kaka, Karim Benzema ditransfer dengan harga-harga yang fantastis, terlebih CR9 yang ditarik dari Manchester United dengan harga 80 juta poundsterling! Sungguh harga yang tidak masuk akal.

Setelah semua lini mendapat amunisi baru, tiba saatnya untuk mengurangi jumlah awak. Arjen Robben, Gabriel Heinze, Wesley Sneijder, Ruud van Nistelrooy semua dilepas dengan alasan tidak cocok dengan skema yang dijalankan Manuel Pellegrini dan skuad sudah terlalu gemuk. Yang lebih ironis, Sneijder dan Robben berhasil melakukan 'comeback' sempurna dengan tampil di final Liga Champions di Santiago Bernabeu dan seakan membuktikan bahwa adalah salah menjual keduanya.

Kalah dari Alcorcon 4-0 di Piala Raja, 2 kali kalah dari rival abadi Barcelona dan kegagalan merebut titel La Liga. Kaka tidak mampu bermain seapik di AC Milan, Karim Benzema kalah mentereng dibanding Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo bermain memukau, namun tetap gagal menyelamatkan muka Real Madrid di La Liga. Bagai seorang yang menderita penyakit komplikasi. Presiden panik dan menghardik anak buahnya.

Buntutnya, Manuel Pellegrini semakin santer diberitakan bakal digantikan Jose Mourinho, pelatih yang baru saja memenangkan treble bersama Internazionale. Ibarat pengusaha kalah dalam persaingan bisnis, Florentino Perez kembali berjudi dengan membeli barang modal baru, yakni the Special One dari Giuseppe Meazza demi melengkapi missing link yang selama ini belum tersambungkan oleh Manuel Pellegrini. Mou - panggilan Jose Mourinho juga dikabarkan akan mengajak Maicon, Wesley Sneijder, dan Diego Milito ke Bernabeu. Mereka adalah aktor-aktor dibalik sukses Inter meraih tripletta musim 2009/2010.

Saya tidak menyalahkan keputusan pemecatan Manuel Pellegrini, namun musim ini Real Madrid sebenarnya mampu tampil apik, bahkan mereka adalah tim dengan pencapaian gol terbanyak musim ini, mengalahkan sang juara Barcelona. Pellegrini adalah pelatih yang berkualitas, terbukti ia mampu membawa tim antah berantah macam Villareal menembus 4 besar Liga Champions musim 2005/2006. Ia tidak sepenuhnya salah dalam kegagalannya membawa Real Madrid meraih tropi musim ini. Banyak faktor yang menyebabkan Real Madrid gagal, inkonsisten adalah salah satunya. Mereka dikalahkan 4-0 oleh tim divisi III Alcorcon pada ajang Piala Liga.

Akan semakin lucu nantinya jika mereka benar-benar akan merekrut the Special One, karena semakin terlihat mereka seperti kebakaran jenggot melihat Barca yang dengan mudahnya mendulang trofi La Liga ke Nou Camp atau melihat Jose Mourinho yang dengan mudahnya memenangkan Liga Champions bersama Internazionale dengan mengalahkan Chelsea, Barcelona, dan Bayern Munchen. Dan mereka ingin secepatnya meraih trofi-trofi itu musim depan dibawah asuhan Mou. Sungguh...terlalu

Minggu, 23 Mei 2010

10 Fakta Final Liga Champions 2010



Berikut merupakan 10 fakta yang terjadi saat final Liga Champions mempertemukan Bayern Munchen dan Internazionale :

1. 4 - terdapat 4 mantan pemain 'penghuni' Santiago Bernabeu, yakni Walter Samuel, Esteban Cambiasso, Wesley Sneijder dari Inter, dan Arjen Robben dari Bayern Munchen.

2. 3 - Diego Milito menjadi pemain Argentina ke-3 sepanjang sejarah yang mampu mencetak 2 gol di final setelah Hernan Crespo dari AC Milan (2005) dan Rial dari Real Madrid (1956).

3. 2 - terdapat 2 pemain muslim yang bermain pada final Liga Champions 2009-2010, yakni Halil Altintop (Bayern Munchen) dan Sulley Ali Muntari (Inter Milan).

4. 4 - Samuel Eto'o mengikuti jejak Gerard Pique (Manchester United 2008, Barcelona 2009), Paulo Sousa (Juventus 1996, Dortmund 1997), dan Marcel Desailly (Marseille 1993, AC Milan 1994) yang memenangkan 2 trofi Liga Champions 2 musim berturut-turut dengan 2 klub yang berbeda.

5. 11- Samuel Eto'o menjadi pemain ke 11 yang berhasil memperoleh 3 trofi Liga Champions. Hanya Clarence Seedorf yang mempunyai rekor dengan 4 trofi Liga Champions.

6. 8 - Bayern Munchen telah memainkan 8 final Liga Champions sepanjang sejarahnya. Mereka memenangkannya 4 kali dan juga kalah 4 kali.

7. 1 - Inter hanya memainkan 1 pemain Italia pada final kali ini, Marco Materazzi.

8. 2 - Jose Mourinho memenangkan 2 titel Liga Champions dengan 2 klub berbeda, Porto (2004) dan Internazionale 2010. Ia mengikuti jejak Ottmar Hitzfield (Dortmund 1997, Bayern 2001).

9. 7 - final kali ini merupakan final ke-7 yang berakhir dengan skor 2-0.

10. 10 - Inter menjadi klub ke-10 sepanjang sejarah yang mampu meraih treble, juara liga, piala liga, dan Liga Champions.


Sumber : Opta, Infostrada Sports, dan analisa pribadi :)

Kamis, 20 Mei 2010

Welcome back, Dorian!



Jika Liga Inggris mempunyai Tottenham Hotspur sebagai kontestan kejutan Liga Champions untuk musim depan, Liga Italia juga mempunyai nama kejutan untuk dikedepankan, siapa lagi kalau bukan Sampdoria.

Tim besutan Luigi Del Neri ini berhasil finis di posisi 4, spot terakhir untuk peserta Liga Champions. Mereka berhasil menyingkirkan Palermo, Juventus, dan Napoli dalam perburuan tempat di Liga Champions musim depan.

Il Samp, begitu mereka dijuluki, pernah menjadi raksasa di Italia pada musim 1990/1991 saat mereka menjadi juara Liga Italia. Saat itu mereka bermaterikan pemain seperti Gianluca Pagliuca, kiper legendaris Italia, Srecko Katanec, yang pernah menjadi pelatih Slovenia di Euro 2000, Roberto Mancini, pelatih Manchester City, Gianluca Vialli, dan Sinisa Mihajlovic. Talenta-talenta tersebut berhasil dimaksimalkan Vujadin Boskov, allenatore asal Yugoslavia yang juga berhasil memoles Real Madrid, AS Roma, dan timnas Yugoslavia sendiri. Dan salah satu prestasi yang tidak bakal terlupakan adalah saat mereka berhasil menembus final Liga Champions musim 1990/1991. Final kala itu mempertemukan mereka dengan raksasa Spanyol, Barcelona yang saat itu diasuh Johan Cruyff yang menampilkan total voetbal ala Belanda. Sampdoria yang tampil sporadis dan spartan berhasil membuat Barca kesulitan mengembangkan permainan. Lini tengah mereka dikontrol oleh gelandang asal Brazil, Cerezo. Lini depan mereka begitu tajam dengan duet Mancini - Vialli. Sedangkan, lini belakang mereka dihuni Pietro Vierchowood dan Srecko Katanec. Namun saat pertandingan memasuki extra time, mereka tumbang oleh 'tendangan geledek' Ronald Koeman. Mereka pun gagal mengawinkan gelar liga dengan Liga Champions. Meski kalah, mereka tetap berbangga hati, karena pada saat itu mereka berhasil 'menggantikan' the Dream Team, AC Milan di final Liga Champions, karena AC Milan kala itu merupakan tim paling menakutkan di seantero Eropa.

Musim depan, mereka akan kembali ke pentas Liga Champions. Kali ini yang akan menjadi punggawa-punggawanya adalah Antonio Cassano, Gianpaolo Pazzini, Angelo Palombo, dan Luca Castelazzi. Namun, perjalanan mereka tidak akan ditemani Luigi Del Neri, sang allenatore yang berhasil membawa mereka sampai sejauh ini. Luigi Del Neri akan menangani Juventus, tim yang notabene mereka gagalkan langkahnya untuk menembus Liga Champions musim depan.